AMOR (Pertemuan para pemimpin kelompok religius wanita Asia dan Oseania), yang berlangsung dua atau tiga tahun sekali kembali dilaksanakan pada 2 – 6 Agustus 2024 di Indonesia. Bertempat di RPCB, Syantikara, Yogyakarta, pertemuan ini mengumpulkan 83 peserta dari berbagai macam negara di Asia Oseania: Sri Lanka, Pakistan, India, Myanmar, Thailand, Filipina, Taiwan, Makau, Hong Kong, Korea Selatan, Timor Leste, Selandia Baru, dan Indonesia. AMOR kali ini mengangkat tema “Promoting Ecological and Human Fraternity for Synodal Church in Asia – Oceania”.
Pertemuan hari pertama, 2 Agustus 2024, diawali dengan Perayaan Ekaristi Pembuka yang dipimpin oleh Mgr. Robertus Rubyatmoko, Uskup Keuskupan Agung Semarang. Dalam kotbahnya, Mgr Ruby menekankan bahwa kehidupan religius yang dijalani sekarang ini merupakan kesaksian nyata kasih dan kerahiman Allah. Lebih lanjut, Mgr. Ruby mengajak para religius untuk mengikuti Kristus dengan memberikan kesaksian yang penuh cinta, keadilan dan damai. Selain kotbah yang menginspirasi, Perayaan Ekaristi terasa lebih meriah dengan iringan dan tari-tarian para Novis Suster-Suster Carolus Borromeus yang berasal dari Indonesia dan Vietnam.
Di akhir perayaan Ekaristi, Suster Elisabeth, OP selaku presiden AMOR ke-18 di Indonesia dan juga Sr. Mary Barron, OLA selaku Presiden UISG (Internasional Union Superiors General) memberikan sambutan dan juga pengantar untuk pertemuan ini. Sr. Elisabeth menekankan panggilan untuk merangkul pendekatan integral terhadap misi kita. Selain itu, Sr. Elisabeth juga menjelaskan pentingnya pertemuan ini sebagai sarana perjumpaan yang membangun dan berjalan bersama untuk mempromosikan persaudaraan antar manusia dan kepedulian terhadap rumah kita bersama. Sejalan dengan Sr. Elisabeth, Sr. Mary Barron juga memberi penekanan akan pentingnya dialog. Dialog dibutuhkan untuk menciptakan persaudaraan ekologis dan manusia. Pertemuan AMOR di Indonesia kali ini merupakan sebuah kesempatan yang baik untuk memupuk pemahaman dan kolaborasi lintas tradisi agama.
Selain perayaan Ekaristi dan sambutan, acara selama hari pertama AMOR ini diisi dengan pertemuan-pertemuan dan juga sesi-sesi yang menekankan pengenalan peserta satu sama lain. Setiap perwakilan dari masing-masing negara diminta untuk mempresentasikan karya-karya mereka terkait dengan persaudaraan ekologis dan antar manusia. Para peserta yang lain tidak hanya mendengarkan, tetapi juga diminta untuk berbagi di dalam kelompok kecil mengenai hal-hal apa yang menyentuh mereka dari pemaparan yang ada. Dengan menggunakan metode percakapan tiga putaran, kelompok mencoba untuk merasakan gerak-gerak Roh yang menyapa dan mendorong mereka setelah mendengarkan presentasi. Romo Petrus Sunu Hardiyanta, SJ dan Suster Leonora Therese Veriga, OSU, yang menjadi fasilitator untuk pertemuan hari ini membantu para peserta untuk menemukan beberapa kata kunci utama. Kolaborasi dan Kebersamaan menjadi dua kata kesimpulan dari seluruh proses pengenalan di hari ini.





