AMOR dalam perjalanan: Bertumbuh dan Berbuah, itulah kata kunci yang disampaikan Mgr. Benedictus Estephanus Rolly Untu M.S.C – Penghubung KOPTARI-KWI, kepada peserta AMOR. Diuraikan dalam Vita Consecrata No. 72, bahwa Hakikat, martabat dan identitas hidup religious (kaum hidup bakti) meliputi panggilan menuju kekudusan, dipanggil untuk melaksanakan misi serta menjadi saksi kehadiran Kristus bagi dunia. Dikatakan bahwa AMOR bertujuan untuk membina persaudaraan sejati dan kerjasama antar tarekat religious Perempuan di Tingkat Asia Oceania, yang bertujuan untuk mengarahkan kembali semangat kenabian dan terang anggota hidup bakti, membantu menaruh perhatian serius pada karisma dan spiritualitas setiap anggota atau kongregasi, dan untuk menyegarkan diri sesuai konteks masing-masing wilayah dan situasi global terkini.
Dalam catatannya Sr. Lee, OSU sebagai fasilitator menyampaikan pentingnya mengikuti tindakan Yesus dalam berproses melalui Melihat – Menilai – Bertindak (See-Judge-Act). Ia menyampaikan bahwa sesuai teladan Yesus kita diundang untuk menyadari bahwa setiap kontribusi itu berharga, tidak ada yang terlalu kecil jika kita menyerahkannya kepada Yesus dan percaya pada kekuatan pengubahannya. Dalam upaya menanggapi kebutuhan ciptaan saat ini, dengan cara yang sederhana dan kecil, kita dapat membuat perbedaan. Dalam bahasa Mandarin, karakter untuk kata KRISIS – dapat diartikan sebagai peluang – titik krusial, saat sesuatu mulai berubah. Mungkin selanjutnya kita dapat melihat, apa yang tampaknya menjadi krisis, dalam terang baru, dengan perspektif baru dan kemungkinan baru untuk membuat perubahan positif.
Setelah melalui proses ‘Melihat’ dan ‘Menilai’ dalam berproses selama beberapa hari, para peserta diundang untuk menyelesaikan langkah terakhir yakni ‘Bertindak’ tidak hanya secara individu tetapi juga secara kolaboratif membuat perbedaan dan melanjutkan pekerjaan yang telah dimulai di Indonesia dengan lebih bersemangat, dalam peran sebagai nabi pengharapan dan nabi perdamaian. Melalui proses dalam diskusi kelompok, Pertemuan AMOR pada akhirnya membentuk kesepakatan bersama melalui beberapa poin untuk rekomendasi yakni: Mempromosikan dan memperkuat kolaborasi antar umat beragama; Mempromosikan, memulai, dan melanjutkan, tindakan konkret untuk perawatan lingkungan; Mendukung Talitha Kum (Gerakan Anti-Human Trafficking); serta memiliki sekretariat dan narahubung di setiap konferensi nasional untuk mendorong kerja sama berikutnya.
Tujuan pertemuan ini akan tercapai jika gerakan ini dimulai dari setiap anggota dan komunitas untuk menjadi Garam dan Terang Dunia dan jika gerakan ini diimplementasikan baik dalam Institusi/ komunitas kita maupun dalam dasar kehidupan komunitas sedemikian rupa sehingga terus menerus menerangi setiap orang yang ada di rumah bersama kita (lih. Mat 5: 13-16). Demikian penegasan yang disampaikan Mgr. Rolly Untu kepada peserta AMOR.
Seluruh rangkaian pertemuan AMOR XVIII ditutup dengan Perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Nuncio Mgr Piero Pioppo. Dalam homilinya, Mgr Piero Pioppo mengingatkan kembali semangat menjadi pewarta-pewarta yang bahagia dan mendalam.
Akhirnya, tiba juga waktu perpisahan bagi seluruh para peserta AMOR XVIII. Para suster dan peserta lainnya saling berpelukan dan mengucapkan perpisahan satu sama lain. Perjumpaan beberapa hari ini tidak hanya membangun jejaring, tetapi juga persaudaraan di antara mereka. Terima kasih banyak atas perjumpaan yang meneguhkan dan menumbuhkan, sampai berjumpa di AMOR selanjutnya.





