Para Rama, Bruder, Suster, Frater yang terkasih, Kita pantas bersyukur karena Bangsa Indonesia telah dianugerahi pemimpin baru melalui proses Pemilu yang luar biasa. Proses Pemilu yang sangat panjang telah menjadi kesempatan pendidikan Demokrasi bagi seluruh rakyat. Masa kampanye yang diwarnai oleh persaingan kubu 01 dan 02 sedemikian intens. Kita disesakkan oleh banyak sekali ujaran kebencian, berita hoax bukan hanya selama masa kampanye, tetapi juga selama masa penghitungan suara secara nasional, pengumuman hasil pemilu, gugatan hasil pemilu, Sidang MK, Keputusan MK dan akhirnya penetapan pemenang oleh KPU. Sekalipun melelahkan, Bangsa Indonesia belajar banyak mengenai proses Demokrasi.
Buah yang bisa kita petik dari pesta demokrasi
Tidak banyak negara dianugerahi kesempatan serumit dan setegang Indonesia. Proses Pemilu Presiden dilaksanakan secara terbuka. Bahkan setelah diumumkan hasil Pemilu, kontestant yang dinyatakan kalah masih bisa menuntut keadilan pada Mahkamah Konstitusi. Melalui sidang yang sangat inten, Mahkamah Konstitusi dengan berdasar pada hukum, mengambil keputusan menolak gugatan pihak penuntut dengan seluruhnya. Keputusan MK untuk mengadili hasil Pemilu secara terbuka, seluruh rakyat bisa menyaksikan jalan sidang MK, menjadi pelajaran berharga bagi seluruh pihak. Kita semua belajar dari seluruh proses bahwa Pemilu Presiden berjalan jujur, adil dan transparan. Tuduhan KECURANGAN tidak terbukti di pengadilan MK. Ternyata bangsa ini bisa menjalani proses Demokrasi dengan lebih baik lagi. Kita pantas berdoa, supaya Bangsa Indonesia sekalipun beragam, berbeda, tetapi tetap berani bekerja bersama-sama. Meminjam istilah anak-anak muda: Kita Berbeda, oleh karena itu Kita Perlu Bekerja Sama. Kita bersatu dalam keberagaman. Semangat inilah yang perlu kita hidupkan di manapun kita berkomunitas dan berkarya. Kita perlu ikut serta memelihara kebhinekaan. Kita perlu ikut serta memulihkan jati diri bangsa. Itulah mandat dari Sidang Pleno Koptari 2017 di Laverna Lampung. Pesta demokrasi ini kembali menegaskan pentingnya seluruh Kaum Religius dan seluruh sahabat berkarya untuk bersama-sama menemukan cara untuk MEMELIHARA KEBHINEKAAN dan MEMULIHKAN JATIDIRI BANGSA.
Kunjungan BP Koptari ke Maumere dan Ruteng dalam kerjasama dengan KOMDIK KWI
Melaksanakan mandat Sidang KOPTARI 2017, BP Koptari memutuskan untuk bekerjasama dengan KOMDIK KWI memulai membangun dasar-dasar Memelihara Kebhinekaan. BP Koptari melihat dengan jelas bahwa Tarekat-Tarekat memiliki kesempatan untuk turut serta memelihara Kebhinnekaan melalui pelayanan Pendidikan di sekolah-sekolah Tarekat maupun Keuskupan. Oleh karena itu bersama Komisi Pendidikan KWI, Koptari ingin memulai proses Marathon Panjang untuk mewujudkan cita-cita memelihara Kebhinekaan. Oleh karena itu, pada bulan Mei 2019, Ketua BP Koptari bersama KOMDIK KWI mengadakan Lokakarya bagi para guru di Maumere dan juga Lokakarya bagi para Suster, Bruder, Imam di Ruteng. Isi lokakarya ini menyasar upgrading ‘Kompetensi Kepribadian Guru’. Secara khusus, para Guru diajak untuk belajar kembali mengolah Nalar, Rasa dan Kehendak yang merupakan kekuatan atau tiga daya jiwa. Kemampuan seseorang mengelola Nalar, Rasa dan Kehendak menjadi pintu masuk kemampuan mengolah diri secara sistematis dan mendalam. Selanjutnya para peserta lokakarya juga diajak untuk mengenali Akar Afeksi yang berasal dari keluarga. Para peserta menemukan bahwa ternyata kita masing-masing membawa ‘keutamaankeutamaan’, karakter-karakter, sifat-sifat’ yang kita warisi dari Bapak, Ibu, Kakek dan Nenek kita. Keutamaan, sifat, karakter-karakter seperti: tegas, disiplin, tanggung jawab, murah hati, kerja keras, merawat, melindungi, merdeka ternyata sesungguhnya merupakan ‘interior batin’ seseorang atau ‘interiority’. Bahkan lebih lanjut, interiority atau ruang batin ini ternyata sesungguhnya juga merupakan Visi personal. Penemuan akar afeksi, ruang batin atau Visi hidup ini memudahkan kita untuk memahami cara kita bertindak, cara kita merespon orang lain, dan memudahkan kita untuk bersyukur secara konkret atas ‘anugrah hidup’ yang luar bisasa. Ternyata akar afeksiku (ad=melekat; facere = tindakan/ perbuatan) tumbuh dan berkembang dari keluarga. Kemurahan hatiku, kerja kerasku, kekuatanku untuk merawat atau memperhatikan orang lain tumbuh dari keluarga dan terus berkembang melalui perjalanan hidup di sekolah, di lingkungan dan di tempat kerja. Para peserta dianjurkan untuk mengambil waktu barang 5-10 menit per hari, untuk melihat dan mengumpulkan pengalaman masa lalu (review and recollect) dan mensyukuri bagaimana keutamaan-keutamaan itu ditumbuhkan oleh Allah melalui perjumpaan-perjumpaan dengan sedemikian banyak pribadi yang telah membentukku (formator). Keberanian peserta untuk recollect atau mengumpulkan pengalaman afektif, akan menjadi ‘saving bank account’ afeksi atau tabungan afeksi. Orang yang memiliki saving bank account afeksi melimpah, akan mampu berbagi afeksi dengan orang lain secara merdeka dan berkelimpahan, dan akan terhindarkan dari ‘defisit’ afeksi di saat-saat kita dihadapkan pada ‘konflik’ atau situasi ‘kritis’. Secara sederhana, selanjutnya para peserta diundang untuk mengenali dan menemukan ‘needs dan values’ masing-masing. Setiap orang memiliki ‘kebutuhan psikologis’ atau needs. Kebutuhan psikologis ini merupakan unsur konstitutif dalam diri seseorang. Artinya, needs ini tumbuh sejak kita dikandung Ibu dan akan terus hidup terus sampai kita menghadap Allah. Untungnya, setiap ‘needs’ memiliki sahabatnya atau partnernya yang kita sebut ‘values’ atau tindakan berharga. Orang yang sedih kalau tidak diperhatikan, menunjukkan bahwa dia butuh atau ingin DIPERHATIKAN. Pribadi yang ingin diperhatikan memiliki kekuatan untuk MEMPERHATIKAN. Itulah valuenya. Mereka yang ingin DIHARGAI, memiliki ‘value’ atau tindakan berharga ketika MENGHARGAI. Orang yang neednya ingin DIPERCAYA, memiliki value MEMPERCAYAI. Orang yang ingin berhasil dan takut gagal, disebut memiliki need achievement. Sahabat dari need achievement adalah MEANINGFULNESS atau ‘KEBERMAKNAAN’. Oleh karena itu, orang yang selalu ingin berhasil dan takut gagal dipanggil untuk membantu orang lain menemukan MAKNA HIDUP. Rasanya lucu, tetapi memang demikianlah kenyataanya. Ketika kita bisa mengidentifikasi dan menemukan Needs serta Values, hidup kita menjadi sederhana. Tugas kita sederhana, membalik Need (ingin DI….) menjadi values (ME……). Dengan membalik needs menjadi values, kita bertransformasi dari pribadi in needs….. menjadi pribadi yang valueable atau berharga. Latihan-latihan pengolahan diri ini ditutup dengan penjelasan ringkas mengenai ‘map of consciousness’ seperti diuraikan oleh Profesor David Hopkins dalam bukunya Power vs Force. Dalam buku ini, profesor David Hopkins menjelaskan bahwa Rasa itu ternyata merupakan realitas obyektif, bukan subyektif. Rasa merupaka realitas obyektif karena merupakan endapan atau kristalisasi nalar atau consciousness. Consciousness atau kesadaran manusia bisa dipetakan dan diukur energinya. Tugas kita adalah mengenali dan menemukan level energi dari kesadaran kita. Dengan berbekal pengetahuan dan pemahaman mengenai tiga daya jiwa: Nalar, Rasa, dan Kehendak, kita bisa mengenali secara lebih tepat akar-akar afeksi dan needs serta values dalam hidup kita. Pengenalan itu akan menolong kita memahami bagaimana kita bisa memelihara energi positif (yang mengarah pada hidup dan pencerahan) di dalam hidup kita sehari-hari. Contoh, orang yang marah-marah memiliki energi sebesar log 150 (energi ini termasuk dalam kategori energi di bawah ambang batas netral log 200). Oleh karena itu, kemarahan menimbulkan energi negatif baik bagi yang marah maupun bagi yang dimarahi. Sebaliknya orang OPTIMIS misalnya, dia memiliki level energi sebesar log 310, dan ini merupakan energi positif. Oleh karena itu pribadi yang optimis akan memiliki energi positif baik bagi dirinya maupun bagi orang-orang yang disekitarnya. Tugas kita, sebisa mungkin menghidupi level energi positif dari kesadaran kita yang nyata dalam akar afeksi, ruang batin, visi, maupun values yang merupakan sahabat dari needs kita. Melalui latihan-latihan di atas, para peserta lokakarya (para guru dan para religius serta rohaniwan) diajak untuk memperkaya diri dengan kompetensi mengolah kepribadian. Kompetensi Kepribadian ini sangat penting untuk mendasari gerakan MEMELIHARA KEBHINNEKAAN. Hanya kalau kita bisa atau mampu mengenali diri kita yang sedemikian berharga dan kaya, hanya kalau kita mampu menemukan bahwa ada sedemikian banyak pribadi luar biasa yang telah mewarnai dan membentuk hidup kita yang sangat berharga (valueable) ini, pada akhirnya kita akan bisa menemukan, menghargai dan memelihara indahnya KEBHINNEKAAN.
Kunjungan ke beberapa Tarekat di Ruteng
Secara khusus BP Koptari juga mengadakan kunjungan kepada beberapa Tarekat Religius di Ruteng, terlebih Tarekat-Tarekat yang belum tergabung di dalam KOPTARI. Maksud kunjungan ini adalah untuk menyapa, mengenal lebih dalam masing-masing Tarekat dan memperkenalkan KOPTARI. Saya sangat bersyukur boleh mengunjungi beberapa Tarekat dan bisa menangkap Spiritualitas, Dinamika formasi anggota tarekat, dinamika perutusan baik di Indonesia maupun di luar negri, khususnya di Italia, tantangan untuk promosi panggilan, tantangan untuk formasi aspiran, postulan maupun novis. Saya bersyukur boleh mengenal lebih dalam dan merasakan kegembiraan, tantangan, kesulitan maupun harapan-harapan. Semoga KOPTARI ke depan dalam gerak bersama IBSI, MABRI dan MASI bisa semakin memberi perhatian yang cukup bagi Tarekat-Tarekat yang sungguh memerlukan bantuan khususnya dalam bidang formasi.





