Suster-Suster Misi Abdi Roh Kudus

Suster-Suster Misionaris Abdi Roh Kudus (SSpS)

Awal Mulanya

Menanggapi panggilan Roh Kudus dan kebutuhan umat manusia di mana pelayanan perempuan sangat penting, pada 8 Desember 1889 di Steyl, Belanda, Arnold Janssen, Pendiri Tarekat Sabda Allah (SVD), bersama dengan Suster Maria Helena Stollenwerk, dan Suster Josepha Hendrina Stenmanns, meletakkan dasar bagi Kongregasi Suster Misionaris Abdi Roh Kudus (SSpS), sebagai komunitas religius-misionaris yang didedikasikan untuk Roh yang memberi kehidupan.

ssps

Pada tahun 1896, St. Arnoldus Janssen mendirikan satu kongregasi lagi, Abdi Roh Kudus Penyembahan Abadi (SSpSAP).

SSpS Provinsi Jawa lahir pada tanggal 3 Mei 1925. SSpS. Sebelumnya SSpS sudah ada di Indonesia pada tahun 1918 di Flores dan di tahun 1921 di Timor. Saat ini SSpS ada di lima (5) Provinsi di Indonesia yakni Provinsi Flores Barat, Provinsi Flores Bagian Timur, Provinsi Timor, Provinsi Kalimantan dan Provinsi Jawa.

SSpS Provinsi Maria Bunda Allah, Jawa

Tahun ini yakni tahun 2025, Kongregasi Suster-suster Misi Abdi Roh Kudus (SSpS) di Provinsi Jawa merayakan 100 tahun pelayanannya.

Di akhir abad ke 19 dan awal dekade abad ke 20, ada banyak penyakit seperti malaria, cholera, cacar air, sifilis, beri-beri dan mata. Setelah Perang Dunia I, muncul epidemi sampar (1920) dan pandemi flu Spanyol (1918-1920) yang menyebabkan banyak penderitaan dan kematian.

Kondisi banyaknya penyakit yang banyak memakan korban mendorong upaya-upaya peningkatan pelayanan kesehatan dan penelitian di bidang kesehatan. Adanya ethical politic yang dijalankan oleh Pemerintah Hindia Belanda membuat banyak dana disediakan oleh Pemerintah untuk bidang kesehatan, apalagi saat itu ekonomi sedang melonjak pesat sebagai hasil pengembangan/ perbaikan sistem pertanian dan perkebunan.

Didorong oleh kebutuhan pelayanan kesehatan yang makin meningkat sehubungan peningkatan populasi dan didukung oleh situasi kondusif sebagaimana diuraikan di atas, maka tidaklah mengherankan bahwa di tahun 1920an beberapa rumah sakit swasta lahir di Surabaya, kebanyakan berkembang dari klinik.

Di tengah situasi seperti itulah, Pastor wilayah Surabaya, Pastor Fleerakers, SJ, memimpikan hadirnya sebuah rumah sakit Katolik di Surabaya, yang diikuti dengan terbentuknya sebuah Panitia Pendirian Rumah Sakit Katolik yang disebut  Roomsch Khatoliek Ziekenhuis Vereneging (RKZV) di tahun 1920. 

Di tahun 1923, misi di Surabaya diserahkan oleh Romo-romo Yesuit kepada Roma-romo Lasaris atau Kongregasi Misi (CM). Maka mimpi itu dilanjutkan oleh Mgr. Th. de Backere, CM yang kemudian menjadi Prefek Apostolik di tahun 1928.[1]

Embrio Roomsch Khatoliek Ziekenhuis (RKZ = Rumah Sakit Katolik Roma) di Surabaya terbentuk dengan kesepakatan disewanya gedung “Kliniek van Oendaän” oleh RKZV, pada tanggal 1 Januari 1925 dan kemudian mendapat wujud lengkapnya sebagai rumah sakit dengan hadirnya 6 (enam) suster Abdi Roh Kudus (SSpS) di tanggal 3 Mei 1925.

Kelahiran RS Katolik St. Vincentius a Paulo (RKZ) tentu saja tak dapat dipisahkan dengan lahirnya misi para suster SSpS di tanah Jawa, yang dimulai dengan berangkatnya 6 orang suster SSpS tersebut ke Surabaya pada akhir Febuari 1925. Dalam kapal laut “Rondo”, terdapat daftar nama mereka : Sr. Felicina, Sr. Jezualda, Sr. Sponsaria, Sr. Stefaniana, Sr. Manetta, Sr. Aldegonda.

Akhir April, enam suster SSpS mendarat di Batavia (sekarang Jakarta). Mereka menginap di Rumah Sakit St. Carolus dan pada tanggal 1 Mei, mereka berangkat ke Surabaya dengan kereta api. Dengan bermalam semalam di Semarang, akhirnya pada tanggal 3 Mei tibalah mereka di tujuan. Beberapa minggu kemudian, tepatnya di tanggal 28 Mei, tibalah Sr. Humiliana yang membantu di kamar jahit. Menyusul kemudian 2 orang Suster perawat yakni Sr. Iphigenie dan Sr. Isentrudis.

Waktu bergulir, rumah sakit RKZ dikunjungi banyak pasien, sehingga kebutuhan akan gedung yang lebih besar terasa makin mendesak. Tetapi, untuk merealisasikannya terutama terkait mendapatkan dananya, bukan hal yang mudah. Bergelut bergulat, antara kesulitan dana dan kesibukan menangani banyaknya pasien, antara mimpi untuk membangun pelayanan kesehatan yang besar dan modern dengan situasi lokal dan global, ekonomi maupun geopolitik, yang sungguh menantang.

Tarik ulurpun terjadi, para donatur tidak dapat melanjutkan komitmennya untuk memungkinkan pembangunan sebuah rumah sakit. Panitia pembangunan harus menyerah dan menyerahkan nasib mimpi pendirian rumah sakit Katolik kepada para suster SSpS. Para suster sangat bersemangat untuk melanjutkan misi mulia itu, namun dengan tantangan ekonomi yang ada, itu bukan hal tidak mudah. Lagipula, dibutuhkan ijin dari Pimpinan Kongregasi untuk menerima tanggung-jawab begitu besar.

Di tengah-tengah kesibukan itu, dinamika para misionaris ditantang, ada arah yang harus berubah. Di tahun 1926, Sr. Felicina dan Sr. Humiliana mengunjungi Blitar dan secarik catatan kronik menuliskan bahwa:

“Pada akhir tahun 1927, mereka menyewa sebuah rumah kecil di daerah Blitar yang lebih sejuk dimana para suster dari rumah sakit dapat berlibur secara bergiliran selama beberapa minggu. Tahun berikutnya kelas penitipan anak didirikan di rumah ini”. 

Itulah awal dari karya besar pendidikan di Blitar, yang ditandai dengan didirikannya Joseph Stichting (= Yayasan Yosef) dengan akte tertanggal 5 Mei 1927.

Sementara itu, karena perkembangan misi di Jawa yang makin jelas, pimpingan Kongregasi SSpS di Steyl merasa perlunya adanya pengelolaan tersendiri; Maka, pada tanggal 26 Maret 1929 resmi berdirinya Regio Maria Pengantara Segala Rahmat untuk misi SSpS di Jawa.

Di tahun 1974, Pimpinan Kongregasi menetapkan perubahan nama pelindung Regio menjadi Regio Maria Bunda Allah, atas usulan Sr. Elsa Susana Hongersofer selaku regional saat itu. Sr. Elsa terinspirasi oleh budaya masyarakat Indonesia dimana sosok ibu sangat dekat dan berperan dalam keluarga, dan secara khusus sangat dekat dengan Bunda Maria, Sang Bunda Allah. Kemudian harinya, di tahun 1984, saat Regional dijabat oleh sr. Rosalini, Regio Maria Bunda Allah, Jawa, resmi menjadi Provinsi. Otomatis, Sr. Rosalini menjadi Provinsial pertama.

Karena belum mempunyai rumah biara sendiri, Komunitas RKZ jl. Oendaan menjadi tempat tinggal pimpinan Regio, yang terdiri dari Sr. Felicina sebagai Regional pertama, Sr. Amadea sebagai Asisten Regional dan Sr. Jezualda menjadi Admonitoris.

Karya pendidikan di Blitar berkembang dengan pesat, dan Allah memberi jalan dibangunnya sekolah dan biara SSpS yang pertama. Itulah Biara Roh Kudus dan SD Katolik St. Maria di jl. S.Supriadi Blitar, saat itu bernama Garoemstraat, yang di tahun 1932 – 1950 menjadi Regionalat yang pertama.

Ijin dari Pimpinan Umum SSpS mengubah gerak langkah misi di Jawa. Tanggal 18 Juli 1933 berdirilah Yayasan Arnoldus yang diketuai oleh Sr. Jezualda SSpS. Tanpa membuang waktu, pada tanggal 20 November 1933 dilaksanakan peletakan batu pertama pembangunan gedung rumah sakit Katolik di jl. Reineers Boulevard, sekarang jl. Diponegoro dan setahun kemudian, RKZ pindah ke gedung barunya. Rumah Sakit Katolik di Surabaya, yang lebih sering disebut RKZ, berkembang dengan pesat dan terus dilengkapi dengan berbagai peralatan medis.

Seiring dengan perkembangan misi di Surabaya, misi di Blitar juga terus berkembang. Mulai dari sekolah dasar, sekolah Tionghoa, sekolah dasar Putri Jawa, Sekolah Industri dan Kepandaian Putri hingga Kursus Dagang. Para suster SSpS dengan luwesnya bergerak dinamis mengikuti irama zaman yang terus berubah.

Dari misi satu ke misi yang lain, dan pada saat ini SSpS Provinsi Jawa semakin meluas karya pelayanannya yang meliputi Keuskupan Surabaya, Malang, Bali, Semarang, Pangkalpinang, Jayapura dan Merauke.  Jumlah Suster di Provinsi Jawa saat ini 134 Suster, memiliki 18 komunitas. Para Suster melayani di bindang pendidikan, kesekatan, kerasulan orang muda dan sosio pastoral.

“Vivat Deus Unus et Trinus in Cordibus Nostris” – “May the holy Triune God live in our hearts and in the hearts of all people”. _ “Hiduplah Allah Tritunggal Mahakudus Dalam Hati Kita Dan Dalam Hati Umat Manusia”. adalah moto doa St. Arnold Janssen, yang menjadi dorongan utama di balik semangat misinya, yang saat ini dihidupi oleh SVD, SSpS dan SSpS AP. Dengan menghidupi Spiritualitas Allah Tritunggal Mahakudus, Kharisma Misioner, para Suster SSpS Jawa melayani dengan nilai-nilai yang satu dan sama dalam misi: Belas Kasih, Integritas, Misioner dan Inovatif-Visioner.

Penulis,

Sr. Ignata, SSpS


Media Sosial: