lambang Kongregasi Suster Fransiskan Santa Lusia (KSFL)

Kongregasi Suster Fransiskan Santa Lusia (KSFL)

Kongregasi Suster Fransiskan Santa Lusia (KSFL) hadir dan melayani di Indonesia melalui sejarah panjang. Kongregasi ini berasal dari Kongregasi Suster Fransiskan Santa Lucia Bennebroek di Belanda, yang awalnya berkembang di Rotterdam sebelum akhirnya menetap dan berpusat di Bennebroek. KSFL merupakan salah satu tarekat religius yang menghidupi semangat Santo Fransiskus Assisi dan Muder Lusia Dierckx.

Kongregasi ini lahir sebagai tanggapan terhadap kebutuhan pelayanan di Rotterdam, Belanda.  Awalnya tiga suster diutus dari Kongregasi Mater Dei di Breda ke Rotterdam yakni Sr. Lucia Dierckx dari St. Theresia, Sr. Dominika van Weert dari St. Fransiskus, dan Sr. Benedikta van Gastel dari St. Aloysius. Mereka memulai misi dengan merawat orang-orang sakit dan terlantar, melayani orang-orang miskin dan usia lanjut serta mendidik masyarakat khususnya kaum perempuan melalui sekolah menjahit. Seiring waktu, kongregasi ini berkembang dan akhirnya menjadi kongregasi mandiri yang berpusat di Rotterdam. Tanggal 15 Oktober 1847 ditetapkan sebagai hari berdirinya kongregasi ini ditandai dengan untuk pertama kalinya menerima dua orang postulan menjadi Novis di bawah bimbingan Muder Lusia Dierckx. Pada tahun 1920 biara pusat pindah ke Bennebroek

Kongregasi ini berkembang pesat. Maka pada tahun 1919, Kongregasi membeli biara suster Hati Kudus dari Perancis di Bennebroek sebagai pemekaran tempat tinggal para suster. Tanggal 1 Agustus 1919 Novisiat dipindahkan ke Bennebroek dan Tahun berikutnya yakni 1 Mei 1920 pusat biara ikut pindah ke Bennebroek. Dari Bennebroek suster-suster Fransiskan Santa Lusia mengembangkan misinya masuk ke Indonesia.

KSFL di Indonesia: Awal Misi dan Perkembangannya

Misi KSFL di Indonesia dimulai atas permintaan Mgr. Mathias Brans, OFMCap, yang saat itu menjabat sebagai Prefek Apostolik Padang. Mgr. Mathias Brans OFMCap secara aktif mengetuk pintu-pintu biara di Belanda agar bersedia mengirimkan misionaris ke Indonesia. Kongregasi Fransiskan Santa Lusia Bennebroek adalah salah satu  kongregasi yang menerima penawaran itu. Atas permintaan kongregasi maka tanggal 12 Agustus 1924 Uskup Haarlem memberikan izin kepada kongregasi untuk mengembangkan misi ke Indonesia.

Pada tahap pertama  yakni tanggal 29 Agustus 1925 kongregasi mengutus enam suster ke Indonesia. Ke enam misionaris tersebut adalah Sr. Nikasia Hoogenboom, Sr. Barbara Hogebon, Sr. Charitas Hensi, Sr. Fernanda van Egmond, Sr. Cortona Willems dan Sr. Hermenigilda Hamers. Mereka tiba pada 3 Oktober 1925 di Sawahlunto-Sumatera Barat dan disambut oleh Mgr. Brans bersama umat Katolik yang ada di sana. Selanjutnya mereka kemudian memperluas misi ke Bukittinggi dan Payakumbuh dengan mendirikan komunitas biara, karya mengelola sekolah, mengajar kaum muda berbagai keterampilan. Para suster berperan penting dalam mengajar di sekolah-sekolah Katolik, mengelola asrama, serta mendirikan sekolah kejuruan bagi kaum perempuan. Dalam perjalanan waktu cara dan gaya hidup para suster mulai menarik perhatian para pemudi Katolik. Mereka ada yang ingin menjadi suster dan karena itu Kongregasi membuka Novisiat di Bukittinggi tahun 1938. Sejak itu Bukittinggi menjadi pusat pendidikan bagi calon suster Kongregasi Fransiskan Santa Lusia di Indonesia.

Perjalanan KSFL di Indonesia tidak selalu mulus. Saat Perang Dunia II pecah, para suster mengalami masa-masa sulit. Pada Maret 1942, tentara Jepang menduduki wilayah Sumatera Barat dan menawan banyak suster KSFL. Mereka ditempatkan di kamp-kamp tahanan di Bukittinggi dan Bangkinang. Pada masa-massa sulit ini para suster harus menghadapi kondisi yang sangat berat, termasuk kekurangan makanan dan diserang penyakit. Empat suster meninggal dalam tahanan.

Setelah Jepang menyerah pada 22 Agustus 1945, para suster secara bertahap dibebaskan dan kembali menjalankan pelayanan mereka. Namun situasi belum normal, para suster masih harus menghadapi ketidakstabilan pasca perang dan pergolakan politik di Indonesia. Dalam situasi ini para suster sempat berkarya di Banjarmasin-Kalimantan

Walau para suster mengalami berbagai kesulitan khususnya sebagai dampak perang dan politik namun perjalanan harus terus berlanjut. Para suster pantang menyerah. Hal ini dibuktikan dengan keputusan para suster untuk tetap bertahan bahkan mengembangkan misinya di berbagai wilayah Indonesia. Mereka mendirikan komunitas di Medan,  Lintongnihuta dan daerah lainnya. Salah satu tonggak penting dalam sejarah KSFL adalah pembukaan Novisiat di Lintongnihuta pada 1954, yang kemudian menjadi pusat biara dan pusat pembinaan calon suster-suster local yang pada umumnya berasal dari tanah batak.

KSFL telah berkontribusi besar dalam dunia pendidikan, kesehatan masyarakat, pastoral dan karya-karya sosial di Indonesia. Para suster terus berjuang dalam pelayanan kemanusiaan di berbagai bidang. Mereka mendirikan berbagai sekolah, panti asuhan, asrama siswa-siswi, serta layanan kesehatan dan berbagai therapy sebagai wadah pelayanan yang beroperasi hingga saat ini. Dengan semangat Santo Fransiskus Assisi dan Moder Lusia Dierckx, Kongregasi ini berkembang terus dalam perlindungan Santa Lusia. Kisah perjalanan KSFL di Indonesia mencerminkan dedikasi yang luar biasa  meskipun dihadapkan pada berbagai tantangan. Kongregasi ini terus berkembang dengan semangat pelayanan yang tak pernah pudar. Pada tahun 1987 KSFL secara resmi mendirikan Yayasan Santa Lusia yang kemudian berubah nama menjadi Yayasan Santa Lusia Virgini (YSLV) untuk mengelola karya bidang pendidikan. Yayasan ini berkembang pesat dan hingga tahun 2024 telah mengelola 26 (dua puluh enam) unit pendidikan, termasuk sekolah luar biasa (SLB), TK, SD, SMP, SMA. Kongregasi ini juga mendirikan Yayasan Karya Luhur Jaya untuk menaungi karya pelayanan di bidang kesehatan yang sebelumnya menyatu dengan Yayasan Santa Lusia.

KSFL Menjadi Kongregasi Mandiri

Seiring dengan berkembangnya jumlah anggota dan karya misi, KSFL mulai mengupayakan kemandiriannya dari Kongregasi Induk di Bennebroek-Belanda. Setelah melalui berbagai proses dan dukungan dari para uskup di Indonesia, permohonan untuk menjadi kongregasi mandiri akhirnya resmi disetujui Tahta Suci Vatikan pada 21 Februari 1995 dengan dekrit Prot. n. DD 2314-1/93. Sejak itu  KSFL  menjadi kongregasi diosesan dengan nama Kongregasi Suster Fransiskan Santa Lusia (KSFL) berbasis di Jl. Kain Sutera no.8 Kelurahan Bane-Kota Pematangsiantar, Sumatera Utara.

Perjalanan panjang menjadikan KSFL mengalami berbagai perubahan dan perkembangan di Indonesia.  Mereka memiliki dedikasi dan semangat pengabdian yang kuat sejak awal berdiri di Belanda hingga berkembang menjadi kongregasi mandiri di Indonesia, KSFL mampu beradaptasi dengan tantangan zaman demi mewujudkan visi dan misi pelayanan mereka di tengah masyarakat Indonesia.

Menjadi saudara bagi semua bukanlah perkara yang mudah. Persaudaraan akan terwujud dengan benar dan tepat apabila setiap orang suster KSFL mampu menghayati inti spiritualitas dan karisma kongregasi, yakni kerendahan hati, kesederhanaan, persaudaraan dalam pertobatan yang terus-menerus. Penghayatan tersebut dinyatakan dengan mampu mencintai dan menjadikan diri saudara bagi semua orang serta adanya kemauan untuk terlibat dan merasakan secara langsung pengalaman hidup sesama dan menanggapinya dengan melakukan karya belas kasih yang nyata.

Motto hidup KSFL adalah Alles voor Allen (Segalanya untuk semua). Hal itu menjadi salah satu sikap dasar perutusan para suster KSFL. Sikap itu diamalkan dengan adanya kesediaan untuk menjadi saudara bagi semua, membuka tangan untuk sesama dan hadir untuk semua.

Kehadiran para suster KSFL diharapkan menjadi oasis di padang gurun yang memberikan air kehidupan. Hal itu tidaklah sekedar harapan melainkan menjadi upaya dan perjuangan terus menerus, dimulai dari diri para suster KSFL dengan melatih diri berusaha mencintai siapa pun tanpa memandang suku, agama dan budaya, mampu merangkul dan menghargai setiap pribadi yang lemah, tersingkir, dan menderita, serta mengampuni sesama sekalipun pernah dilukai dan disakiti. Dengan demikian, para suster KSFL menjadi tanda Kerajaan Allah di dalam komunitas, Gereja, masyarakat, dan di mana pun mereka diutus.

Inilah sekilas kiprah perjalanan KSFL hingga saat ini.

Media Sosisl Kongregasi Suster Fransiskan Santa Lusia (KSFL):