Kongregasi Suster PMY

Kongregasi Suster PMY

Sejarah Singkat Pendiri

Permulaan abad 19 adalah masa yang sulit bagi daratan Eropa berhubung dengan perang yang berakibat pada penderitaan yang mendalam bagi rakyat, tak terkecuali negeri Belanda. Berpuluh-puluh ribu orang, baik tentara maupun sipil gugur maka timbullah kemiskinan hebat di antara rakyat biasa.

Kongregasi Suster PMY

Pastor Jacobus Antonius Heeren Pr dihadapkan pada keadaan tersebut. Ia melihat banyak kemiskinan dan kesengsaraan. Sepertiga dari penduduk sangat tergantung pada sedekah, banyak anak tidak terurus berkeliaran di jalan-jalan, orang-orang lanjut usia tidak terurus, banyak orang jatuh ke dalam jurang kemiskinan dan kesengsaraan, dan terjadilah kekosongan besar di dalam kehidupan (iman, sosial, ekonomi).

Digerakkan oleh semua kebutuhan yang mendesak ini, beliau membuat rencana untuk memberikan pertolongan. Lewat perjuangannya bersama dengan beberapa perempuan yang juga mempunyai kepedulian yang sama terhadap mereka yang miskin dan menderita, akhirnya Pastor J. A Heeren Pr diperkenankan untuk secara resmi mendirikan kongregasi. Ia  memberikan nama : “Suster-Suster Cinta Kasih Putri Maria dan Yosef”. Bunda Maria dan St. Yosef  sebagai Pelindung Utama dan yang menjadi teladan dalam mengabdi Allah dan sesama. St. Yohanes Rasul menjadi teladan bagaimana selalu mengarahkan hati, cinta dan kasihnya hanya kepada Yesus, dan semangat St. Vincentius menjadi semangat dalam berkarya melayani orang miskin dengan sederhana, rendah hati, tanpa pamrih dan tanpa memandang agama dan perbedaan lainnya.

Untuk  melayani sesama yang miskin, Suster PMY berusaha untuk hidup dan berkarya sesuai dengan Spiritualitas yang ditekankan oleh Pastor Heeren yaitu “Kesederhanaan dan Kesatuan”. Adapun motto kongregasi : “In Omnibus Caritas’ yang bermakna  “Cinta kasih di dalam segala-galanya”.

Kongregas Suster PMY Si Indonesia

Hampir 2 abad Kongregasi Suster-suster Cinta Kasih Putri-Putri Maria dan Yosef (PMY) berkarya sejak didirikan di s’Hertogenbosch, Belanda pada tanggal 7 Juli 1820. Kongregasi PMY menghayati semangat “In Omnibus Caritas” (Cinta kasih dalam segala-galanya), kemudian berkembang ke berbagai negara termasuk Indonesia. Sebuah proses perjalanan yang  panjang dengan pelayanan yang telah dikerjakan yaitu melayani sesama terutama kepada mereka kaum papa miskin.

Di Indonesia, Kongregasi PMY lahir tanggal 15 Maret 1938 oleh para suster misionaris Belanda dan tanah kelahiran PMY di Indonesia berada di Wonosobo, daerah sejuk di balik Gunung Sumbing dan Gunung Sindoro, Jawa Tengah. Sesuai dengan tujuan khas kongregasi yaitu karya cinta kasih bagi mereka yang miskin, lemah dalam masyarakat, baik miskin secara jasmani maupun rohani, maka karya-karyanya adalah melayani anak-anak tuna rungu di SLB-B Dena Upakara, karya kesehatan di pedesaan, pemberdayaan petani dan perempuan  yang  berkembang ke pendampingan CU Lestari, pastoral, pendampingan anak-anak stasi yang tinggal di asrama milik Paroki,  terlibat dalam pendidikan formal di sekolah umum (SMP milik Paroki St. Paulus Wonosobo), dan  kemasyarakatan.

Pada tahun 1968 mulailah para suster berkarya di Yayasan Sosial Soegijapranata (YSS) dengan memberi kursus menjahit kepada ibu-ibu yang suaminya menjadi tahanan politik. Dari karya penjahitan meluas ke karya pendidikan anak-anak tak mampu, kemudian karya kesehatan dan pelayanan untuk para lansia milik YSS. Dalam perjalanan waktu, kongregasi  bekerjasama dengan Kongregasi Bruder FIC yang berkarya di bidang pendidikan umum/khusus, dan beberapa waktu yang lalu ada beberapa suster bekerja di rumah retret milik Bruder FIC tetapi karena kekurangan tenaga suster maka sekarang tidak ada lagi yang bekerja di rumah retret tersebut.  Para suster juga terlibat dalam kegiatan paroki dan di dalam masyarakat. Selanjutnya, untuk pelayanan bagi lanjut usia, kongregasi mengelola Panti Wreda Catur Nugroho di Kaliori, Banyumas.


Media Sosial: