ZIARAH DARI ALFA SAMPAI OMEGA
Sejak tanggal 26 januari hingga 24 Februari, SND Provinsi Indonesia mendapat visitasi dari Ibu Jendral Sr Mary Kristin Battles dari USA dan Asisstennya Sr Mary Sreja dari India, namun mereka tinggal di Rumah Induk Roma. Setelah kami mengadakan
Musyawarah Provinsi pada tanggal 29 – 31 Januari, 2019, dilanjutkan dengan visitasi ke Komunitas yang ada di Jawa. Kehadiran para petinggi dari Roma bisa menyaksikan bagaimana, keterlibatan umat dan kegotong-royongan, dalam peristiwa yang komplit, betapa tidak? Mereka berdua menyaksikan upacara, Kaul Kekal dan Pesta Panca Windu, Emas dan ^0 Th membiara juga menyaksikan upacara Pemakaman Sr Maria Ignasia yang dihadiri oleh banyak umat, hal ini tak akan terjadi di Eropa, bahwa orang melayat hingga pemakaman selesai. Kehadiran Suster di pelbagai Komunitas juga disambut dengan aneka tarian dan pementasan budaya.
Ditengah Visitasi itu kami selenggarakan Pesta Rohani. Tepatnya pada tanggal 15 Februari para Suster SND merayakan Pesta Kaul kekal ke 3 Suster Yunior mereka adalah Sr Maria Lusia, Sr Maria Angela, Sr Maria Irenia SND. Juga merayakan 60 tahun hidup membiara bagi Sr Maria Ignasia, Pesta Emas Sr Maria Tekla, Sr Maria, Godefrida dan Sr Maria Khatarina, serta Panca Windu serah setia Sr Maria Virgo. Perayaan Ekaristi dipimpin oleh Bapa Uskup Purwokerto, Mgr Christophorus Tri Harsono, serta 6 Conselebran imam, salah satunya Romo Martinus Ngarlan selaku Romo Paroki.
Suasana Pesta begitu meriah, dekorasi kapel biara induk SND Pekalongan juga indah, ditangani oleh Ibu Lily Hermintanto dan Para MITRA SND. Kemeriahan ini dibalut juga kesedihan karena Sr Maria Ignasia, pagi sebelum pesta dilarikan ke RS Budi Rahayu karena mengalami sesak nafas, Sr Maria Tekla juga tidak hadir karena dalam keadaan sakit di Jakarta, Sr Maria Katarina juga tidak hadir karena sakit di Holland Belanda ( beliau menjadi misionaris di Negara Kincir angin sejak masa Yuniorat )
Sore hari selesai mandi, saya mendapat tilpon dari Sr Katarina Maria, salah satu assisten Provinsial dengan berita supaya saya cepat ke RSBR, keadaan Sr Ignasia sangat kritis, cepatlah saya kesana naik becak dalam keadaan banjir dan hujan deras. Maklum Kota Pekalongan senantiasa dilanda banjir bila hujan deras mengguyur. Kami berdoa, terus berdoa dan satu persatu banyak Suster yang hadir mengelilingi Sr Maria Ignasia, alat bantu nafas sudah mulai acak angkanya dan tidak normal ditengah doa, Sr Yasinta meminta saya untuk memberkati Sr Ignasia, dan semua itu saya lakukan, dengan doa kepasrahan dan mengucap selamat jalan,: Kedalam Tangan-Mu Ya Tuhan Kuserahkan Jiwa Sr Ignasia”, suster tersengal dan menghembuskan nafas dengan lembut tepat pukul 18.00 WIB. Kami meneruskan dalam doa penyerahan, dan membawa jenazah suster keruang jenazah untuk dibersihkan dan didandani. Manusia punya rencana namun Tuhan yang menentukan.
Bagiku kembalinya Suster Maria Ignasia kepangkuan Bapa menjadi suatu refleksi dan meditasi panjang. Suster sungguh bahagia meninggal disaat merayakan 60 tahun Hidup membiaranya. Saya yang pernah lama hidup bersama suster di komunitas memutar balik, kesaksian hidupnya yang senantiasa memberi kesejukan, damai, tenang mengerjakan sesuatu dengan tekun, penuh tanggung jawab dan ketaatannya yang luar biasa. Sr Ignasia selalu memberi pengayoman kepada kami yang muda, selalu menanyakan : Sudah senoep ( nyamik ), belum?, ayo makan, tenagamu dibutuhkan kongregasi “ kata-kata seorang ibu, nenek yang menyayangi anak dan cucu-cucu biaranya, inilah yang senantiasa membekas dihatiku. Pikirku Pantaslah kiranya Sr Ignasia mendapat anugerah besar saat kematiannya yang bahagia, semua berkumpul, dekorasi pesta masih indah segar menjadi dekorasinya saat ekaristi dan pemakamannya berlangsung. Selamat jalan Sr Maria Ignasia yang terkasih, bakti dan teladanmu memberi Inspirasi bagi kami untuk selalu SETIA
A L F A
A L F A





