Sejarah, spiritualitas, dan Perjalanan Perutusan
Kongregasi Bunda Pengasih Gembala Baik didirikan oleh Santa Maria Euphrasia Pelletier pada tahun 1835. Kehadiran kongregasi ini berakar pada warisan spiritual Santo Yohanes Eudes, pendiri Kongregasi Bunda Pengasih dari Pengungsian, yang memiliki perhatian mendalam terhadap perempuan yang mengalami berbagai kesulitan dan membutuhkan pendampingan untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik. Berlandaskan warisan tersebut, Santa Maria Euphrasia mengembangkan kongregasi dengan semangat cinta belas kasih, khususnya bagi mereka yang mengalami luka akibat dosa, ketidakadilan, dan berbagai bentuk penderitaan. Misi rekonsiliasi menjadi inti perutusan kongregasi, yang diwujudkan melalui pelayanan penuh kasih, penghormatan terhadap martabat manusia, serta kepedulian terhadap mereka yang berada dalam situasi rentan.

Kehadiran Kongregasi Bunda Pengasih Gembala Baik di Indonesia bermula pada tahun 1927, ketika enam suster dari Leiderdorp, Belanda, memenuhi undangan Mgr. Van Velzen, Vikaris Apostolik Batavia. Undangan tersebut dilatarbelakangi oleh keprihatinan terhadap banyaknya anak terlantar dan remaja putri yang membutuhkan pendampingan, pembinaan, dan pendidikan secara khusus. Menanggapi kebutuhan tersebut, enam suster, yaitu Sr. M. Ancilla Hendriks, Sr. M. Philomena Kolk, Sr. M. Du Carmel Terwey, Sr. M. Luperta, Sr. M. Gerardus Majela, dan Sr. M. Ludovika, berangkat dari Belanda menuju Indonesia. Mereka tiba di Jakarta pada 27 April 1927 dan mengawali Perjalanan Perutusan Kongregasi Gembala Baik di Indonesia.
Sejak awal kehadirannya, para suster menjalankan perutusan di tengah berbagai tantangan dan perubahan. Perjalanan kongregasi ditandai dengan perpindahan tempat serta perluasan wilayah pelayanan sebagai tanggapan terhadap kebutuhan Gereja dan masyarakat. Setelah melalui berbagai dinamika, komunitas di Jakarta kini menetap di Jalan Jatinegara Barat, Jakarta Timur, dan menjadi bagian dari Paroki Matraman.

Seiring perkembangannya, Kongregasi Bunda Pengasih Gembala Baik mulai memperluas kehadirannya ke berbagai wilayah di Indonesia. Sejak tahun 1927 hingga 1956, komunitas di Indonesia berada di bawah Provinsi Belanda. Pada tahun 1956, kongregasi mulai mengembangkan pelayanan di wilayah Keuskupan Bogor, yang pada saat itu masih menjadi bagian dari Prefektur Apostolik Sukabumi. Perluasan perutusan berlanjut pada tahun 1976 melalui pembukaan komunitas di Keuskupan Agung Semarang, kemudian pada tahun 1987 di Keuskupan Ruteng, Flores, dan pada tahun 1996 di Keuskupan Ketapang, Kalimantan Barat. Perjalanan ini menandai pertumbuhan kehadiran kongregasi sekaligus komitmennya untuk menjawab kebutuhan masyarakat di berbagai daerah.
Pada tahun 1990, Kongregasi Gembala Baik di Indonesia resmi berdiri sebagai provinsi tersendiri dengan lima komunitas yang berkarya di empat keuskupan. Perkembangan tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan kongregasi, sekaligus mencerminkan pertumbuhan tanggung jawab dan kemandirian dalam menghayati panggilan serta melaksanakan perutusan di Indonesia.

Bagi Kongregasi Bunda Pengasih Gembala Baik, kehidupan komunitas merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari panggilan dan perutusan setiap suster. Setiap suster dipanggil untuk menghayati hidup bakti bukan hanya sebagai pribadi, melainkan juga sebagai anggota komunitas yang hidup dalam semangat persaudaraan. Komunitas menjadi tempat untuk bertumbuh dalam iman, memperdalam spiritualitas, dan menghidupi karisma cinta belas kasih dalam kehidupan sehari-hari. Dalam semangat tersebut, komunitas Gembala Baik dipanggil untuk menghadirkan wajah Gereja di tengah dunia, sebagai umat yang dipersatukan dalam persekutuan dengan Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Berakar pada warisan Santa Maria Euphrasia dan Santo Yohanes Eudes, Kongregasi Bunda Pengasih Gembala Baik di Indonesia terus menghidupi panggilan untuk menghadirkan cinta belas kasih dan mewujudkan misi rekonsiliasi. Melalui kehidupan komunitas dan berbagai bentuk pelayanan, para suster berupaya menanggapi kebutuhan zaman, mendampingi mereka yang terluka dan terpinggirkan, serta turut membangun kehidupan yang menjunjung tinggi martabat manusia. Dengan tetap setia pada karisma pendiri dan terbuka terhadap tantangan zaman, kongregasi melanjutkan perutusannya untuk menjadi tanda kasih dan harapan di tengah Gereja dan masyarakat.
Sr. Theresia Anita, RGS

Media Sosisal Kongregasi Bunda Pengasih Gembala Baik