“Mengelola Psikoseksual di Tengah Dunia VUCA: Pedoman Gereja dan Pendampingan Holistik”
Lawang, Malang 22–26 November 2025, Konfrensi Pemimpin Tinggi Tarekat Religius Indonesia (KOPTARI) kembali menyelenggarakan Lokakarya bagi para Formator Religius tahun 2025, sebuah kegiatan yang bertujuan meningkatkan kapasitas para formator dalam pendampingan calon religius dan anggota komunitas. Acara ini berlangsung pada 22–26 November 2025 di Rumah Pembinaan Julie Billiart, Jln. Argomoyo no. 2a Lawang Malang Jawa Timur. Lokakarya ini dihadiri oleh para formator dari berbagai tarekat religius yang berjumlah 91 Biarawan/Biarawati/ Seminari di seluruh Indonesia.
KOPTARI mengangkat tema “Mengelola Psikoseksual di Tengah Dunia VUCA: Pedoman Gereja dan Pendampingan Holistik” dalam Lokakarya ini. Tema ini dipilih sebagai respons terhadap dinamika zaman yang semakin kompleks, tidak pasti (volatile, uncertain, complex, ambiguous), serta tantangan formasi religius yang kian menuntut kedalaman pemahaman dalam aspek psikologis dan spiritual, khususnya dalam pengelolaan psikoseksual para calon religius. Lokakarya menghadirkan tiga narasumber yang kompeten di bidang psikologi, formasi, dan spiritualitas, yaitu:
- Rm. Frans Iwan Yamrewav, MSF seorang pakar Formasi dan Spiritualitas religius,
- Sr. Yosita, CB seorang Konselor dan Formator berpengalaman dalam pendampingan psikologis,
- Rm. Yulius Sunardi, SCJ seorang Akademisi dan pendamping formasi yang mendalami integrasi psikologi dalam kehidupan religius.
Para narasumber memberikan materi mendalam mengenai pengelolaan aspek psikoseksual dalam formasi, pemahaman pedoman Gereja terkait perkembangan afeksi para religius, serta pendekatan holistik yang mencakup dimensi rohani, emosional, dan sosial. Peserta juga terlibat dalam sesi diskusi, studi kasus, dan latihan refleksi, sehingga mendorong pemahaman praktis yang dapat diterapkan dalam Tarekkat masing-masing.
Rm. Antonius Gigih Julianto, CM selaku Ketua KOPTARI dalam sambutannya menyatakan bahwa lokakarya ini merupakan langkah penting dalam memastikan kualitas pendampingan formasi tetap relevan dan efektif di tengah perubahan dunia yang cepat. “Para formator perlu semakin terampil membaca realitas psikoseksual para calon religius, agar pendampingan dapat berlangsung secara manusiawi, matang, dan setia pada nilai-nilai Gereja,” ungkapnya.
Melalui kegiatan ini, KOPTARI berharap para formator religius semakin siap menghadapi tantangan zaman dan mampu memberikan pendampingan yang integral, sehingga menghasilkan pribadi religius yang matang secara spiritual maupun psikologis.
Pada kesempatan lain sebagai bagian dari proses pemulihan, penyegaran, dan penguatan emosional, para peserta diajak untuk melakukan kegiatan refreshing atau katarsis di Kebun Teh Wonosari, Lawang. Suasana alam yang sejuk, hamparan hijau kebun teh, serta kegiatan kebersamaan di alam terbuka memberikan pengalaman yang menyegarkan bagi para peserta. Momen ini sekaligus menjadi ruang kontemplasi dan rekreasi, membantu peserta melepaskan ketegangan setelah mengikuti rangkaian sesi intensif selama beberapa hari.
“Aman saja ko ngapain mo takut
Era VUCA datang, kita hadapi dia…
Siapkan Dirimu, Hatimu, Pikirmu
So pasti cinta makin dalam pada Tuhan”
“Formator 2025 : Tetap Waras! Siap Tempur! Mantap Jiwa! Menyala formatorku.”
Kata-kata diata sebagai Jargon dalam Lokakarya ini semakin menambah semangat, harapan, dan sukacita bagi para peserta. Semoga dengan diri, hati, dan pikiran yang penuh dengan cinta memampukan para peserta semakin yakin dan mantap dalam mendampingi para Formani.
Lokakarya 2025 ini ditutup dengan perayaan ekaristi dan komitmen bersama para peserta untuk terus mengembangkan diri dan berbagi praktik baik dalam pendampingan formasi religius di komunitas masing-masing.
Selamat dan semangat melanjutkan pendampingan terhadap Formandi masa depan Tarekat masing-masing.
“Formator yang matang membentuk generasi religius yang tangguh di tengah dunia VUCA.”
Sr. M. Emilia, SFS (KOPIMANIS KOPTARI)







