Yogyakarta, 25–27 April 2025 – Di penghujung bulan April, tepatnya di Wisma Syantikara, Yogyakarta. Sekelompok religius muda dan orang muda Katolik berkumpul dengan semangat yang luar biasa. Mereka datang dari berbagai penjuru Indonesia, terdiri dari para suster, frater, dan bruder dari beragam kongregasi, serta beberapa orang muda yang penuh semangat untuk belajar dan berkarya dalam dunia digital. Acara ini bertajuk “Mengoptimalkan Media Digital untuk Misi Evangelisasi melalui Konten Kreatif”, sebuah pelatihan yang mengajak para peserta untuk memanfaatkan platform digital dalam menyampaikan pesan iman yang relevan, menarik, dan menginspirasi. Perjumpaan ini bukan sekadar kegiatan biasa. Melainkan sebuah perjalanan spiritual yang mengajak peserta untuk memahami bagaimana dunia maya bisa menjadi ladang misi yang subur, sebuah ruang yang menunggu pesan kasih Kristus dibagikan dengan cara yang segar dan penuh kreativitas.
Hari Pertama – Di pagi hari tanggal 25 April 2025, suasana di Wisma Syantikara terasa penuh dengan semangat. Para peserta tiba dengan harapan besar untuk memulai perjalanan ini. Wajah-wajah muda penuh antusias terlihat bercampur dengan wajah-wajah religius yang penuh kebijaksanaan dan kehangatan. Ada rasa kegembiraan yang terpancar dari setiap langkah mereka, semua datang dengan satu tujuan: untuk belajar dan berkembang bersama dalam semangat evangelisasi baru melalui dunia digital.
Saat matahari mulai condong ke barat, kegiatan dibuka dengan Perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh RD. Filto, seorang imam muda dari Keuskupan Atambua. Perayaan ini bukan hanya sekadar pembukaan, melainkan sebuah peristiwa iman yang memberikan berkat dan penguatan bagi setiap langkah peserta ke depan. Dalam homilinya, RD. Filto mengingatkan bahwa media digital adalah tantangan sekaligus peluang besar bagi Gereja. “Kita dipanggil untuk menjadi saksi yang kreatif, untuk menyebarkan kabar baik melalui platform yang kini marak di kalangan orang muda,” ujarnya dengan penuh keyakinan.Usai misa, para peserta mendengarkan sambutan dari Sr. Maria Emilia, SFS ketua KOPIMANIS KOPTARI. Dalam sambutannya yang penuh semangat sembari memperkenalkan profil KOPIMANIS KOPTARI, Sr. Emilia menekankan bahwa media digital bukanlah musuh yang harus dijauhi, melainkan alat yang harus dimanfaatkan dengan bijak oleh religius muda. “Sebagai religius muda, kita harus bijak dan bisa menjadikan dunia maya sebagai sarana untuk mewartakan Kristus, bukan hanya mengikuti arus zaman, tetapi menghadirkan terang-Nya di tengah dunia yang semakin kompleks,” ujar Sr. Emilia dengan tegas.
Dalam kesempatan ini, Sr. Emilia juga mengajak para peserta untuk menjadikan KOPIMANIS KOPTARI sebagai wadah kolaborasi lintas tarekat dan generasi. “Kami tidak hanya ingin menjadi saksi di dunia nyata, tetapi juga di dunia maya. Bersama orang muda dalam mewartakan kabar gembira,” katanya. Acara malam itu diisi dengan perkenalan para peserta dan berbagai cerita tentang perjalanan panggilan hidup mereka. Usai perkenalan peserta, peserta diajak untuk menemukan ide konten dan teknik membuat konten yang menarik. Semua orang merasa terhubung oleh satu semangat yang sama: untuk menjadi perpanjangan tangan Tuhan dalam dunia yang terus berubah.
Hari kedua, 26 April 2025, dimulai dengan sesi yang lebih intensif dan praktis. Pada hari kedua, perayaan Ekaristi kembali menjadi bagian integral dari keseluruhan rangkaian pelatihan. Kali ini, perayaan dipimpin oleh RD. Sartje Lobi, Imam dari Keuskupan Agung Ende. Suasana misa yang khusyuk dan penuh semangat menjadi hari yang sarat dengan praktik dan eksplorasi kreativitas digital. Dalam homilinya yang hangat dan menggugah, RD. Sartje menyoroti secara khusus peran penting media digital dalam pewartaan iman di era sekarang ini. Beliau menegaskan bahwa Gereja tidak boleh tinggal diam menghadapi perubahan zaman. “Kita dipanggil untuk menjadi pewarta, bukan hanya di mimbar, tetapi juga di dunia digital. Dunia yang setiap hari dijelajahi oleh anak-anak muda kita,” demikian penekanannya. Ia mengajak para peserta untuk berani menggunakan bakat dan kreativitas mereka dalam menyampaikan pesan-pesan iman melalui media yang sangat familiar dengan generasi muda saat ini, seperti Instagram, TikTok, YouTube dan berbagai platform lain.
Para peserta diajak untuk mendalami lebih dalam tentang penggunaan platform digital seperti Instagram, TikTok, Canva, Capcut dan beberapa aplikasi lain sebagai sarana untuk mengkomunikasikan pesan iman. Dalam sesi pertama, para pembicara, yang merupakan praktisi media sosial sekaligus konten kreator berpengalaman, berbagi tentang bagaimana membuat konten yang tidak hanya menarik, tetapi juga mengandung pesan yang mendalam dan sesuai dengan ajaran Gereja. “Media sosial adalah ruang di mana banyak orang muda mencari jawaban, mencari makna hidup. Di sana kita bisa hadir dengan kebaikan dan kasih Kristus,” kata salah satu pembicara dengan penuh semangat.
Selama sesi ini, peserta belajar bagaimana menciptakan konten visual yang menarik, menulis narasi yang menginspirasi, dan mengelola akun media sosial dengan cara yang efektif. Mereka diajak untuk berpikir kreatif, bagaimana mengubah video singkat menjadi alat evangelisasi, memanfaatkan gambar dan tulisan untuk menceritakan kisah iman yang dapat menyentuh hati banyak orang. Sesi ini tidak hanya memberikan keterampilan teknis, tetapi juga memperdalam pemahaman mereka akan kekuatan media digital dalam memperluas jangkauan pewartaan kasih Kristus.
Pagi hari setelah pengantar terkait cara pengambilan konten dan beberapa contoh konten yang disuguhkan oleh narasumber, para peserta diberi kesempatan untuk mengambil konten di sekitar lembah UGM (Universitas Gajah Mada). Para peserta mencoba membuat konten mereka sendiri. Di bawah bimbingan mentor yang berpengalaman, mereka mempelajari cara merekam video dengan kamera ponsel, mengedit gambar, dan menyusun pesan yang tepat sebagai ruang pewartaan iman. Dalam suasana yang hidup dan penuh kebersamaan, para peserta mulai merasakan betapa pentingnya kolaborasi antar kongregasi dalam dunia digital. Mereka menyadari bahwa KOPIMANIS KOPTARI, yang terdiri dari religius muda dan orang muda, adalah tempat yang tepat untuk berbagi ide, belajar bersama, dan berkembang sebagai misionaris digital.Pada hari ketiga, pertemuan dimulai dengan refleksi tentang apa yang telah dipelajari selama dua hari sebelumnya. Para peserta diminta untuk merancang langkah-langkah konkret untuk memulai perjalanan mereka sebagai konten kreator evangelisasi baru. Banyak yang merasa terinspirasi dan bersemangat untuk memulai proyek-proyek digital mereka sendiri, dari akun Instagram yang menginspirasi, hingga yang mendalam tentang kehidupan doa dan panggilan. Di akhir kegiatan pelatihan dirangkum dengan Perayaan Ekaristi, yang dipimpin oleh RP. Ponsy, CMF. Dalam homilinya, RP. Ponsy menegaskan: “Kita tidak hanya dipanggil untuk menjadi pewarta dalam dunia nyata, tetapi juga di dunia maya. Dunia ini sangat membutuhkan suara kebaikan dan kebenaran. Mari kita bawa kasih Kristus ke dunia digital, menjadi konten kreator yang mampu menjawab kerinduan banyak orang, terutama orang muda yang haus akan makna hidup”. Dari beberapa kelakar peserta dalam sharingnya, Homili ini sangat mengena, memberi peserta semangat untuk melanjutkan perjalanan mereka sebagai evangelisasi baru dalam dunia digital.
Penutup: Melangkah dengan Semangat Baru – Dengan semangat baru dan tekad yang kuat, para peserta pulang dengan satu pesan yang tak terlupakan: Aku, kamu, dan kita “Menyapa Dunia dengan Konten, Menyentuh Hati dengan Iman”. Dalam semangat ini mereka berjalan bersama dalam misi evangelisasi baru, pelayanan dan membawa terang Kristus ke dunia. KOPIMANIS KOPTARI, yang merupakan wadah kolaborasi religius muda dan orang muda Katolik, kini menjadi gerakan yang lebih hidup, relevan, dan siap untuk mengoptimalkan dunia digital sebagai sarana evangelisasi yang baru.
“Kami Menyapa Dunia dengan Konten, Menyentuh Hati dengan Iman.” – KOPIMANIS KOPTARI
Br. Egie, MTB || Divisi Rekrutmen & P.Skil KOPIMANIS KOPTARI









