Logo SUSTER SFS

Kongregasi Suster Fransiskan Sukabumi (SFS)

Sejarah dan Perkembangan Kongregasi

Identitas dan Akar Sejarah Kongregasi
suster perintis

Suster-suster Fransiskan Sukabumi (SFS) adalah suatu persaudaraan yang terdiri dari pribadi pribadi yang terdorong oleh panggilan ilahi untuk menghayati dan meneruskan semangat pendiri, Ibu Rosa de Bie. Kongregasi ini berkedudukan di Sukabumi, Jawa Barat, dengan alamat Biara Pusat di Jalan Rumah Sakit No. 3, Kota Sukabumi. Dalam perjalanan sejarahnya, SFS berakar pada Suster-suster Peniten Recollectinen St. Catharina Bergen op Zoom, Nederland, yang didirikan oleh Ibu Rosa de Bie pada 12 Februari 1838. Semangat yang diwariskan oleh pendiri menjadi dasar bagi para suster untuk menghayati panggilan hidup religius dalam persaudaraan, pertobatan, doa, pelayanan, kesederhanaan, dan pengabdian kepada mereka yang membutuhkan.

Keinginan untuk terlibat dalam karya misi telah tumbuh dalam diri Suster-suster Penitenten-Rekolektin Bergen op Zoom sejak masa kepemimpinan Moeder Margaretha. Mereka mendambakan kesempatan untuk merawat orang-orang sakit di daerah misi. Namun, cita-cita tersebut beberapa kali mengalami hambatan karena keterbatasan tenaga yang cakap dan kesulitan finansial. Pada tahun 1928 muncul tawaran yang lebih konkret melalui pembicaraan mengenai kemungkinan berkarya di daerah misi Bengkulu, tetapi rencana tersebut tidak terlaksana. Semangat misi kembali berkobar ketika pada tahun 1930 Mgr. Pacificus Bos OFMCap. mengunjungi Suster-suster St. Catharina dan berbicara tentang kebutuhan pelayanan di daerah misi. Meskipun demikian, rencana untuk berkarya di Kalimantan juga belum menjadi kenyataan.

Jalan Menuju Sukabumi dan Awal Karya Misi

Perjalanan menuju Indonesia mulai memperoleh arah yang lebih jelas pada tahun 1932. Melalui hubungan dengan Pater H. Muller, SY, muncul kemungkinan untuk mengambil alih sebuah rumah sakit di dekat Sukabumi. Pater J. Wubbe, SY, kemudian datang ke St. Catharina bersama Tuan van Mechelen untuk membicarakan kemungkinan mengambil alih rumah sakit milik Kota Praja Sukabumi. Pembicaraan tersebut berkembang secara serius. Pater Wubbe menunjukkan keadaan dan kebutuhan karya di Sukabumi serta mendorong pimpinan Kongregasi agar percaya pada penyelenggaraan ilahi. Walaupun persoalan finansial dan kekurangan tenaga menjadi kekhawatiran besar, semangat misioner para suster kembali tumbuh. Setelah melalui pertimbangan dan doa, pada 28 Desember 1932 Mgr. P. Hopmans memberikan persetujuan bagi Kongregasi untuk menerima tugas misi tersebut. Hari itu kemudian dikenang sebagai hari yang bagi Kongregasi. Untuk gas misi, enam suster misionaris pertama, hine Gulickx sebagai Imelda den Aantrekker, Mocke, Sr. Theresina Gemma Mertogh, dan Uitdewilligen. Pada 19 mereka menerima salib berangkat dari Belanda Indonesia. membahagiakan menjalankan tu dipilih sebagai yaitu Sr. Serap overste, Sr. Sr. Augusta Tax, Sr. Maret Sr. Valentina 1933 misi, kemudian menuju Indonesia.

sejarah SFS
Enam Misionaris Pertama. Duduk dari kiri ke kanan:
Moeder Seraphine, Sr. Imelda.
Berdiri dari kiri ke kanan: Sr. Therezina, Sr. Valentine, Sr. Agusta, Sr. Gemma
Rumah Sakit Santa Lidwina
Rumah Sakit Santa Lidwina

Pada Kamis Putih, 13 April 1933, para misionaris pertama dari Kongregasi Penitent-Rekolektin Bergen op Zoom tiba di Tanjung Priok. Setelah menyesuaikan diri dan mempelajari kondisi pelayanan kesehatan di Jawa Tengah, mereka melanjutkan perjalanan ke Sukabumi. Pada 1 Mei 1933 mereka tiba di Sukabumi. Karena rumah sakit belum secara resmi diserahkan kepada Misi, para suster untuk sementara tinggal di sebuah rumah yang telah dipersiapkan bagi mereka. Mereka mulai melayani orang-orang sakit di rumah-rumah, mempelajari bahasa Melayu, dan menantikan selesainya proses pengalihan rumah sakit.

Akhirnya, setelah melalui berbagai proses, pada 31 Desember 1933 para suster secara resmi menetap di rumah sakit. Mulai 1 Januari 1934 rumah sakit tersebut berada dalam pengelolaan mereka dan kemudian dikenal sebagai Rumah Sakit St. Lidwina. Dengan demikian, karya pelayanan kesehatan di Sukabumi menjadi tonggak penting dalam perjalanan kehadiran Kongregasi di Indonesia. Pada masa awal tersebut, para suster melayani pasien dari berbagai kelompok masyarakat, termasuk pasien pribumi, pasien Eropa, kaum miskin yang memperoleh pelayanan secara cuma cuma, serta pasien dari bagian penjara.


Pertumbuhan Karya Misi di Sukabumi dan Sekitarnya

Karya di Sukabumi berkembang dengan pesat. Pada tahun 1934, selain pelayanan di Rumah Sakit St. Lidwina, para suster juga membuka poliklinik yang melayani ribuan orang miskin. Perkembangan karya tersebut menunjukkan bahwa kehadiran para suster bukan hanya berkaitan dengan perawatan orang sakit, tetapi juga merupakan bentuk nyata kepedulian terhadap masyarakat yang membutuhkan. Pada tahun-tahun berikutnya, kebutuhan pelayanan semakin meningkat sehingga Kongregasi mengirimkan tenaga baru dari Bergen op Zoom.

Pada tahun 1936, ketika jumlah suster bertambah, dibuka poliklinik di Sukanegara, Jawa Barat. Karya tersebut berkembang dan memperoleh tanggapan positif dari masyarakat. Kemudian pada tahun 1937 didirikan pula poliklinik di Cibeber. Dengan demikian, pelayanan para suster tidak hanya berpusat di Rumah Sakit St. Lidwina di Sukabumi, tetapi mulai menjangkau masyarakat di wilayah sekitar. Pada tahun 1938, perkembangan karya misi semakin memperlihatkan buah dari semangat pengorbanan para suster. Pada 2 Maret 1939, empat suster lagi tiba di Indonesia untuk membantu karya pelayanan, khususnya menjangkau masyarakat di pedalaman.

Masa Pendudukan Jepang dan Perubahan Situasi

Perjalanan karya misi kemudian menghadapi masa yang sangat berat ketika Perang Dunia II pecah dan Jepang mulai berkuasa di Indonesia. Para suster berkebangsaan Belanda turut mengalami penahanan. Pada 28 September 1943 mereka digiring ke kamp tawanan dan selama kurang lebih empat tahun berpindah dari satu tempat ke tempat lain, antara lain Cicurug, Bogor, dan Kramat Jakarta. Masa tersebut menjadi pengalaman penderitaan yang berat, tetapi para suster tetap menjalani keadaan dengan ketabahan dan penyerahan diri.

Perang membawa dampak besar terhadap karya yang telah dirintis. Rumah Sakit di Sukanegara hancur dan karya di Cibeber musnah. Rumah Sakit St. Lidwina di Sukabumi tetap ada, tetapi setelah perang pengelolaannya berada di bawah Pemerintah Daerah. Ketika para suster keluar dari kamp tawanan dan kembali ke Sukabumi pada tahun 1947, mereka menghadapi situasi yang berbeda. Dengan semangat pelayanan yang sama, mereka membangun kembali karya dan bekerja sama dengan pemerintah untuk tetap menolong orang-orang yang sakit dan menderita.

Lahirnya Pendidikan bagi Puteri-Puteri Indonesia
Suster Pembimbing dan Para 
Postulan Pertama
Suster Pembimbing dan Para Postulan Pertama

Perubahan penting dalam sejarah Kongregasi terjadi ketika jumlah suster berkebangsaan Belanda semakin menyusut karena sebagian dari mereka telah lanjut usia dan kembali ke negeri asal. Keadaan ini mendorong munculnya pemikiran untuk membuka pendidikan bagi gadis-gadis pribumi agar karya dan semangat Kongregasi dapat diteruskan di Indonesia. Atas dorongan Mgr. N. Geise OFM, yang pada waktu itu menjabat Prefektur Apostolik Sukabumi, gagasan tersebut mulai diwujudkan.

Pada 8 Desember 1950, tiga gadis Jawa memberanikan diri memasuki cara hidup para suster Santo Fransiskus. Mereka menjadi pelopor bagi generasi berikutnya. Dua di antara mereka kemudian dikenal sebagai Sr. M. Lidwina SFS dan Sr. M. Gerarda SFS. Angkatan pertama menyelesaikan pendidikan pada tahun 1953. Setelah itu, angkatan demi angkatan menyusul, sehingga kehidupan religius Fransiskan berkembang semakin subur di bumi Pasundan. Kehadiran para suster pribumi menjadi jawaban bagi keberlanjutan karya. Satu demi satu suster dari Belanda kembali ke negeri asal, sementara satu demi satu pula suster pribumi tampil untuk melanjutkan karya yang telah dirintis. Perkembangan pendidikan calon suster.

Dari Warisan Peniten-Rekolektin Menuju Kongregasi SFS

Pertumbuhan anggota pribumi semakin memperkuat kehidupan Kongregasi di Indonesia. SFS mewarisi semangat Suster-suster Peniten Recollectinen St. Catharina Bergen op Zoom dan menghayati semangat pendiri sebagai jalan untuk mencapai persatuan dengan Allah Tritunggal Yang Maha Kudus. Dalam perkembangan selanjutnya, Suster-suster Fransiskan Sukabumi menjadi suatu persaudaraan religius yang menghayati panggilan dalam konteks Gereja dan masyarakat Indonesia.

SFS kemudian menjadi Kongregasi mandiri tingkat diosesan. Kemandirian tersebut ditegaskan melalui dekrit Kongregasi Suci dengan nomor Prot. N. DD. 2369–1/95, Roma, 7 Oktober 1995, dan dekrit Keuskupan Bogor dengan nomor 33/Dekrit/SKB/96 tanggal 14 April 1996. Sejak itu, SFS melanjutkan perjalanan sebagai Kongregasi yang berakar pada warisan spiritual pendiri dan pengalaman misioner para pendahulunya, sekaligus mengembangkan karya sesuai kebutuhan Gereja dan masyarakat di Indonesia.

Cara Hidup dan Spiritualitas SFS

Cara hidup SFS berakar pada semangat Fransiskan dan diarahkan kepada persatuan dengan Allah Tritunggal Yang Maha Kudus. Untuk mencapai tujuan tersebut, para suster menghayati doa dan kontemplasi, ulah tapa dan pengendalian diri, pelepasan dari hal-hal duniawi, ketaatan, kerendahan hati, cinta kasih yang melayani, pengorbanan diri, serta semangat kegembiraan Fransiskan. Penghayatan tersebut diwujudkan melalui tiga nasihat Injil, yaitu kemiskinan, kemurnian, dan ketaatan, serta melalui kehidupan persaudaraan. Hidup persaudaraan menjadi bagian penting dari identitas SFS. Setiap komunitas sekurang-kurangnya terdiri dari tiga anggota yang dipanggil untuk berdoa bersama, membangun kesetaraan, dan mengembangkan komunikasi yang mendalam. Ketaatan diwujudkan dalam kesetiaan kepada Konstitusi, para pemimpin, dan persaudaraan. Kemiskinan atau pelepasan dari hal-hal duniawi dimaknai sebagai sikap lepas bebas sehingga setiap suster siap diutus dan menjalankan perutusan dengan gembira. Spiritualitas SFS dirumuskan dalam ungkapan: “Menghayati Kasih Yesus Kristus Injili dalam hidup persaudaraan yang ditopang oleh semangat tobat, doa, pelayanan, dan kesederhanaan.” Kasih menjadi dasar karena Allah diimani sebagai kasih. Yesus Kristus menjadi pusat kehidupan dan perutusan. Hidup persaudaraan berpola pada persekutuan Yesus dan kedua belas Rasul, sedangkan pertobatan mendorong para suster untuk terus-menerus memperbarui diri, saling mengampuni, dan menyelamatkan.

Cara hidup SFS berakar pada semangat Fransiskan dan diarahkan kepada persatuan dengan Allah Tritunggal Yang Maha Kudus. Untuk mencapai tujuan tersebut, para suster menghayati doa dan kontemplasi, ulah tapa dan pengendalian diri, pelepasan dari hal-hal duniawi, ketaatan, kerendahan hati, cinta kasih yang melayani, pengorbanan diri, serta semangat kegembiraan Fransiskan. Penghayatan tersebut diwujudkan melalui tiga nasihat Injil, yaitu kemiskinan, kemurnian, dan ketaatan, serta melalui kehidupan persaudaraan. Hidup persaudaraan menjadi bagian penting dari identitas SFS. Setiap komunitas sekurang-kurangnya terdiri dari tiga anggota yang dipanggil untuk berdoa bersama, membangun kesetaraan, dan mengembangkan komunikasi yang mendalam. Ketaatan diwujudkan dalam kesetiaan kepada Konstitusi, para pemimpin, dan persaudaraan. Kemiskinan atau pelepasan dari hal-hal duniawi dimaknai sebagai sikap lepas bebas sehingga setiap suster siap diutus dan menjalankan perutusan dengan gembira. Spiritualitas SFS dirumuskan dalam ungkapan: “Menghayati Kasih Yesus Kristus Injili dalam hidup persaudaraan yang ditopang oleh semangat tobat, doa, pelayanan, dan kesederhanaan.” Kasih menjadi dasar karena Allah diimani sebagai kasih. Yesus Kristus menjadi pusat kehidupan dan perutusan. Hidup persaudaraan berpola pada persekutuan Yesus dan kedua belas Rasul, sedangkan pertobatan mendorong para suster untuk terus-menerus memperbarui diri, saling mengampuni, dan menyelamatkan.

para suster SFS

Doa menjadi sumber dan roh yang menjiwai seluruh kehidupan serta pelayanan para suster. Ungkapan St. Fransiskus, “Allahku dan semuaku” (Deus meus et omnia), menggambarkan relasi yang mendalam antara manusia dan Allah. Dari kehidupan doa, kontemplasi, Ekaristi, doa bersama, doa pribadi, dan refleksi atas realitas hidup dalam terang Sabda, para suster memperoleh kekuatan untuk menjalankan perutusan.

Pelayanan merupakan wujud nyata kasih. Para suster dipanggil untuk saling melayani dengan gembira dan menjadikan diri sebagai tempat pengungsian bagi mereka yang mengalami kesusahan. Pelayanan dalam komunitas kemudian mengalir keluar melalui berbagai karya kepada masyarakat. Kesederhanaan juga menjadi ciri penting, dengan meneladani Ibu Rosa de Bie dalam sikap lepas bebas terhadap jabatan, barang, harta benda, dan tempat. Kesederhanaan diwujudkan melalui penggunaan fasilitas secara bijaksana, keterbukaan dalam pergaulan, rasa syukur, kerja keras, dan kerelaan berbagi.

Perutusan dan Karya Pelayanan SFS

Dalam perjalanan selanjutnya, karya SFS berkembang dalam dua arah, yaitu pelayanan ke dalam dan pelayanan ke luar. Pelayanan ke dalam terutama diarahkan pada pembinaan anggota melalui masa postulan selama 1 (satu) tahun, masa novisiat selama 2 (dua tahun), masa yuniorat selama 6 (enam) sampai 9 (sembilan) tahun, serta bina lanjut. Pembinaan ini bertujuan membantu para nggota bertumbuh dalam kehidupan religius dan semakin matang dalam menghayati panggilan serta perutusannya.

Pelayanan ke luar dilaksanakan dalam berbagai bidang. Dalam bidang pendidikan, SFS berkarya melalui TK, SD, SMP, dan SMA di sejumlah tempat, antara lain di Jawa Barat (Sukabumi, Cipanas, Bogor, Cibinong) dan Jawa Tengah (Sragen, Gubug). Dalam bidang kesehatan, Kongregasi melayani melalui rumah sakit dan Klinik, Rumah bersalin (Sragen, Wirosari – Jawa Tengah dan Sukabumi, Sindanglaya, Cibinong – Jawa Barat).

Di bidang sosial, SFS memiliki karya pelayanan bagi lanjut usia melalui Rumah Lanjut Usia atau Panti Wreda yang bertempat di Sukabumi – Jawa Barat. Dalam bidang pastoral, Kongregasi berkarya melalui Rumah Retret St. Lidwina di Sukabumi dan pelayanan pastoral paroki. SFS juga terlibat dalam karya Keuskupan di Palangka Raya dan Samarinda, meliputi pendidikan, pastoral, asrama, dan tugas-tugas lainnya sesuai kebutuhan. Selain itu terdapat kerja sama dengan OFM dalam pelayanan Asrama Putri dan dapur umum Panti Asuhan St. Yusuf Sindanglaya, Cipanas, Cianjur, Jawa Barat serta pendampingan retret persiapan kaul kekal. Kerja sama juga dilakukan dalam Rumpun Theresia Saelmaekers (FCh, SFS, KSFL, dan FSE) dengan Keuskupan Padang melalui Komunitas Maria Mater Die Tuapejat Mentawai dalam bidang pendidikan dan pastoral.

karya suster SFS

Identitas, Motto, dan Arah Perjalanan SFS

Seluruh perjalanan sejarah SFS memperlihatkan kesinambungan antara warisan spiritual pendiri, pengalaman misioner, pertumbuhan kehidupan religius pribumi, dan pelayanan kepada masyarakat. Dari keberanian enam misionaris yang meninggalkan Belanda pada tahun 1933, pelayanan kesehatan di Sukabumi, masa penderitaan dalam kamp tawanan, pembangunan kembali karya setelah perang, hingga lahir dan berkembangnya para suster pribumi, sejarah SFS merupakan kisah tentang iman, pengorbanan, ketekunan, dan kepercayaan pada penyelenggaraan ilahi.

Motto SFS, “Tempat Pengungsian bagi yang Menderita”, merangkum arah pelayanan dan spiritualitas Kongregasi. Motto tersebut tidak hanya menjadi semboyan, tetapi juga menjadi panggilan untuk menghadirkan kasih Allah secara nyata bagi mereka yang lemah, miskin, sakit, terlantar, dan mengalami penderitaan. Dalam semangat Fransiskan, para suster dipanggil untuk hidup sederhana, membangun persaudaraan, bertobat terus-menerus, berdoa, dan melayani dengan sukacita.

Dengan demikian, sejarah Suster-suster Fransiskan Sukabumi tidak dapat dipisahkan dari sejarah misi Peniten-Rekolektin Bergen op Zoom di Indonesia. Benih yang ditanam melalui pengorbanan para misionaris kemudian bertumbuh menjadi sebuah Kongregasi yang mandiri di tingkat diosesan dan berakar kuat di Indonesia. Kehadiran para suster pribumi menjadi tanda keberlanjutan karya tersebut. Dari generasi ke generasi, SFS terus dipanggil untuk menghayati kasih Yesus Kristus Injili dalam hidup persaudaraan serta mewujudkannya melalui doa, pertobatan, pelayanan, kesederhanaan, pendidikan, kesehatan, karya sosial, dan pastoral.

Sr. M. Emilia SFS

Media Sosial Suster SFS