logo Serikat Misionaris Xaverian

Serikat Misionaris Xaverian (SX)

Serikat Misionaris Xaverian didirikan oleh Guido Maria Conforti. Ketertarikannya untuk menjadi imam tumbuh sejak kecil. Ketika dia berdoa di hadapan salib, dia merasakan panggilannya. Dalam permenungannya di depan Salib dia merasakan pengalaman spiritual di mana dia menyatakan “Aku memandang Dia dan Dia memandang aku, seolah-olah Dia menyatakan banyak hal kepadaku.”

Meskipun perjalanan panggilannya tidak mudah, ketertarikannya untuk menjadi seorang misionaris ke Cina dimulai semakin membara ketika membaca kisah St. Fransiskus Xaverius. Kisah itu menginspirasinya untuk bersaksi tentang Injil Kristus kepada siapapun khususnya yang belum mengenal Kristus. Ketika dia mengutarakan niatnya kepada serikat-serikat misi yang ada, tidak ada satupun yang menanggapinya. Oleh karena itu, dia melanjutkan panggilannya menjadi imam diosesan dan ditahbiskan pada tahun 1888.

Ketika dia diangkat untuk mejadi Uskup Keuskupan Parma, hasratnya untuk menjadi seorang misionaris tidaklah pudar bahkan dia memutuskan untuk menjadi “bapak para misionaris”. Uskup Guido Conforti akhirnya mendirikan tarekatnya sendiri pada 3 Desember 1985 pada usianya yang ke-30.

Ketika menjadi Uskup Parma dan bapa pendiri Serikat Misionaris Xaverian, dia dikenal sebagai “gembala dua kawanan”; di satu sisi dia harus menggembalakan domba-domba di keuskupannya, di sisi lain dia harus merawat keluarga tarekatnya. Semangat kekeluargaan ini juga menjadi semboyan bagi para Xaverian, “menjadikan dunia satu keluarga”.

Dengan berdirinya Serikat Xaverian, hasratnya untuk menjadi misionaris dapat diwariskan kepada para anggotanya. Menjelang akhir hidupnya, St. Guido Maria Conforti sempat mengunjungi Cina. Di sana dia merasakan betapa menantangnya perjalanan dan juga misi pewartaan Injil Kerajaan Allah. Hal ini membuatnya sedih dan juga memiliki harapan yang besar agar para penerusnya dapat lebih giat dalam mewartakan Injil.

Meskipun St. Guido Maria Conforti dalam mengunjungi para misionarisnya dan melakukan tugasnya sebagai gembala umat, kondisi kesehatannya yang lemah sejak muda membuatnya semakin sering sakit dan lemah. Pikiran dan hatinya yang tertuju pada anak-anaknya di misi membuat kondisi kesehatannya semakin lemah.

Akhirnya, pada tanggal 5 November 1931 di usianya yang ke-66 tahun, dia meninggal di Parma, Italia. Kemudian dia dibeatifikasi pada 17 Maret 1966 oleh Yohanes Paulus II dan dikanonisasi pada 23 Oktober 2011 di Lapangan St. Petrus Vatikan oleh Paus Benediktus XVI.

Spiritualitas Serikat Misionaris Xaverian

Hidup yang berpusat pada Kristus (Christocentrism) menjadi inti spiritualitas para misionaris Xaverian. Karena Kristus adalah pusat segala sesuatu (in omnibus Christus) maka mulai dari pengalaman rohani, hidup sehari-hari, hingga pada semangat untuk mewartakan Injil harus bersumber dari Kristus sendiri. Semangat ini membuat para misionaris Xaverian merasakan Kasih Kristus yang mendorong “kami” untuk bermisi (Caritas Christi Urget Nos). Dalam menghidupi semangat ini, para misionaris menghidupi empat kaul religious; kaul misi, kaul kemurnian, kaul kemiskinan dan kaul ketaatan. Semangat ini menjadi ciri khas atau kharisma dari Serikat Misionaris Xaverian yang berawal dari pengalaman spiritual sang pendiri, St. Guido Maria Conforti ketika berjumpa Yesus yang disalib.

Roh Allah pula yang menginspirasi St. Guido Maria Conforti untuk mendedikasikan dirinya membangun satu keluarga yang menguduskan diri untuk Allah dalam bermisi. Semangat inilah yang diteruskan kepada para Xaverian untuk menjawab perutusan Tuhan untuk “Pergilah keseluruh dunia, wartakanlah Injil kepada segala makhluk” (Mr 16:15).

Sejarah Berdirinya Serikat Misionaris Xaverian

Berawal dari kisah misioner St. Fransiskus Xaverius yang mendamba untuk mewartakan Injil di Cina, St. Guido Maria Conforti memiliki hasrat mendalam untuk bermisi di Cina. Oleh karena dia tidak bisa mencapainya dengan bergabung dengan tarekat-tarekat yang sudah ada maka dia mendirikan serikatnya sendiri.

Perjuangannya dalam mendirikan serta merawat serikat ini tidaklah mudah. Pengalaman suka dan duka terhadap keluarga setarekat membuatnya berpikir untuk menyerahkan seluruh kehidupan serikatnya kepada penyelenggaraan Ilahi. Oleh karena itu, Serikat Misionaris Xaverian dengan kaul kemiskinannya memilih untuk tidak memiliki aset yang menguntungkan kongregasi dan berserah pada kemurahan Allah melalui kehadiran para donator dan rekan misi.

Pada tanggal 3 Desember 1895, di Parma, Italia, Guido Maria Conforti mendirikan tarekatnya sebagai sebuah kongregasi yang berfokus pada misi luar negeri. Pada awalnya, para Xaverian hanya berkarya di Cina. Akan tetapi, karena ada pemberontakan boxer di Cina (komunis), para misionaris ini terusir dari Cina. Namun, ini menjadi langkah awal para Xaverian melebarkan sayapnya untuk mewartakan Injil kepada segala bangsa. Spirit ini dilanjutkan hingga sekarang ini dan telah menyebar ke 21 negara.

Elemen-elemen Spiritualitas Xaverian

St. Guido Maria Conforti menekankan dasar spiritualitas Xaverian pada kesatuan yang mesra dengan Allah Bapa sebagai pusat hidup dan sumber inspirasi dalam iman, tindakan dan kasih. Dalam karya kerasulan, para Xaverian hendaknya selalu berpegang teguh pada semangat evangelisasi. Tidak lepas dari itu, di setiap tindakan yang dilakukan harus berusaha untuk mencari dan melihat Kristus dalam segala hal khususnya dalam pewartaan Injil Kerajaan Allah kepada siapa saja. Oleh karena itu, para misionaris Xaverian harus taat dan siap diutus kemana saja dibutuhkan.

Dalam visi kerasulan, St. Guido Maria Conforti menghendaki agar para misionarisnya memiliki pandangan dan pengetahuan yang luas, kemampuan adaptasi terhadap budaya, kondisi lingkungan, dan masyarakat sekitar serta memiliki iman yang berkembangan dan mampu menerima siapapun terlepas dari pikiran-pikiran negatif terkait suku, budaya, dan bahasa karena misionaris harus mewartakan Injil kepada siapapun.

Tahapan Formasi Para Xaverian

Tahap-tahap pembinaan seorang misionaris Xaverian sebagai berikut:

Masa Tunas

(bagi pribadi yang berasal dari sekolah umum atau non-seminari menengah).

Masa Tunas Xaverian juga dikenal sebagai masa orientasi panggilan dimana para calon dihimpun di dalam komunitas Xaverian dan didampingi untuk bertumbuh di dalam orientasi ke arah panggilan misioner. Masa tunas ini umumnya berlangsung kurang lebih satu tahun dan diperuntukkan bagi para calon yang berasal dari sekolah atau universitas umum (non-seminari menengah). Pada tahap ini para calon mulai diperkenalkan dengan kehidupan doa, pengembangan bakat fisik, intelektual dan moral sesuai dengan tata hidup Xaverian. Para calon juga menjalankan karya kerasulan pendampingan iman anak di lingkungan untuk mengembangkan semangat misioner dan kepribadian masing-masing calon. Tunas Xaverian berada di Jl. Pandega Asih I, Manggung, Caturtunggal, Kec. Depok, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55281.

Pra-Novisiat

Setelah menjalankan masa pembinaan di Tunas (bagi yang melalui tahap pembinaan di Tunas Xaverian) atau lulus seminari menengah, para kandidat akan masuk ke dalam tahap selanjutnya, yaitu pranovisiat. Masa pranovisiat atau biasa dikenal dengan masa postulat berlangsung selamat kurang lebih satu tahun. Masa provisiat bertujuan untuk menyiapkan calon tahap Demi tahap sebelum ke novisiat dengan membantu mereka agar bertumbuh ke arah pilihan pertama tata hidup Xaverian. Para postulan mulai diperkenalkan dengan kharisma Xaverian sembari melanjutkan pengembangan kepribadian, kesehatan jasmani dan rohani, kemampuan intelektual dan moral serta mengembangkan semangat misioner dengan karya kerasulan pendampingan iman anak di paroki-paroki sekitar. Pembinaan pranovisat dilangsungkan di Wisma Xaverian di Jl. Conforti No.53, Jurang Manggu Tim., Kec. Pd. Aren, Kota Tangerang Selatan, Banten 15222.

Novisiat

Masih di tempat yang sama dengan pembinaan masa pranovisiat. Masa novisiat dilaksanakan menurut kaidah hukum Gereja selama dua belas bulan atau satu tahun penuh dibawah bimbingan Magister dimana para calon menyadari panggilannya sendiri sehubungan dengan kharisma Xaverian untuk menghidupi gaya hidup serikat, membina budi dan hatinya menurut semangat dan spiritualitas Xaverian khususnya mengenal Bapa Pendiri St. Guido Maria Conforti, konstitusi Xaverian, sejarah serikat dan karya-karyanya. Selamat masa ini, para novis mulai mengikuti hidup kerasulan Kristus sebagai model di dalam semua kegiatan dan pikirannya dengan kehidupan doa dan renungan kitab suci serta menghayati misteri perayaan Ekaristi. Mereka juga melatih kehidupan di dalam komunitas dan kehidupan merasul disamping studi dan kerja bakti sebagai sarana untuk menjalin relasi yang mendalam dengan Tuhan. Pada masa akhir novisiat, para calon diterima ke dalam keluarga Xaverian dengan mengikrarkan kaul-kaul (kaul misi, kaul kemiskinan, kemurnian dan ketaatan) di hadapan Superior Regional (Provinsial Xaverian). 

Skolastikat

Setelah menyelesaikan masa novisiat dan mengikrarkan kaul sementara, para calon mempersiapkan diri untuk misi dengan mengabdikan kepada Studi filsafat yang mencakup sejarah pemikiran manusia dan pendalaman secara sistematis akan masalah-masalah besar umat manusia sambil memperhatikan warisan filsafat dan kebijaksanaan dari pelbagai bangsa dan benua. Masa Studi filsafat pada umumnya berlangsung selama 4 tahun. Para frater belajar filsafat di STF Driyarkara. Disamping Studi, para filosofan juga tetap menghidupi kehidupan rohani, komunitas, dan kerasulan yang lebih luas seperti di paroki, sekolah, katekumenat, hingga karya sosial dan dialog antar agama dan budaya. Komunitas skolastikat Xaverian berada di Jl. Cempaka Putih Raya No. 42, Kel. Cempaka Putih Barat, Kec. Cempaka Putih, Jakarta Pusat.


Media Sosial: