AMORXVIII DAY3 – MERAYAKAN KEBERAGAMAN DALAM SEMANGAT PERSAUDARAAN

Kegiatan AMOR di hari ketiga diawali dengan kunjungan seluruh peserta AMOR ke salah satu pondok pesantren di Yogyakarta, yakni Pondok Pesantren Sunan Pandanaran. Setelah melakukan perjalanan selama tiga puluh menit rombongan tiba di lokasi pesantren. Para peserta disambut ramah oleh para santriwan dan santriwati. Para santri sudah berbaris dengan rapi dan memberikan salam kepada setiap peserta yang turun dari kendaraan. Dalam suasana penuh persaudaraan, para peserta memasuki ruang pertemuan dan disambut dengan iringan Hadroh yang begitu merdu (kesenian Islam yang didalamnya berisi sholawat). Wajah sumringah dan juga takjub terlihat dari para peserta AMOR. Bahkan dalam perjumpaan pertama ini mereka langsung berfoto bersama, walau belum mengenal satu sama lain.

Para peserta kemudian disambut oleh perwakilan dari Pondok Pesantren Pandanaran. Berikutnya Sr. Elisabeth OP selaku presiden AMOR XIII memberikan sambutannya. Suster Elisabeth sangat senang atas sambutan hangat dari santriwan santriwati pesantren dan berharap kunjungan ini akan memberikan pengalaman yang baik. Setelah sambutan selesai, para peserta diberikan pemaparan singkat mengenai Pondok Pesantren Sunan Pandanaran. Pondok Pesantren Pandanaran merupakan sebuah pesantren yang mengedepankan moderasi dalam beragama hadir di 18 cabang dengan jumlah santri mencapai 7000 orang.

Dalam pemaparan dikatakan bahwa Pesantren Pandanaran menjadi tempat referensi yang dikunjungi oleh para tokoh-tokoh dialog antar agama. Salah satu tokoh Katolik yang pernah mengunjungi tempat ini adalah Kardinal Miguel Angel Ayuso pada tahun 2023. Pondok pesantren Pandanaran menjadi salah satu contoh pondok pesantren yang sangat inklusif bagi semua agama. Mereka mengajarkan agama sebagai jalan cinta dan perdamaian bukan peperangan. Oleh karena itu mereka membuka diri bagi siapapun yang ingin datang ke tempat mereka.

Setelah mendengarkan beberapa pemaparan, para peserta juga diberi kesempatan untuk memberikan beberapa tanggapan dan pertanyaan. Proses ini terlihat sangat hidup, terlihat bahwa banyak suster yang ingin memberikan pertanyaan dan juga tanggapan. Salah satu suster, Suster Lusiana Raratini DOLC menyampaikan ketersentuhannya, dan bahkan terlihat begitu terharu dengan animo sambutan dari Pesantren Pandanaran.

Setelah proses tanya jawab dan tanggapan yang begitu hidup dan menarik, para peserta kemudian disuguhi dengan penampilan tarian dari para santriwati yang begitu indah. Dengan iringan Hadroh, tarian saman ditarikan dengan begitu indah dan menarik. Selain disuguhi tari-tarian, para peserta kemudian disuguhi makan siang yang begitu luar biasa. Para peserta terlihat begitu bahagia dengan makanan dan minuman yang dihidangkan. Bahkan sembari mengantri mengambil makanan, para peserta tidak lupa mengambil foto bersama dengan para santriwati. Setelah kenyang dan beristirahat sejenak, para peserta kemudian diajak berkeliling ke kompleks pesantren. Terlihat antusiasme para peserta maupun para santri untuk berjumpa dan bertemu satu sama lain. Para peserta AMOR terlihat sangat terpukau dan tersentuh dengan tempat yang mereka kunjungi: makam, ruang perpustakaan, dan juga asrama putra.

Hal yang tidak kalah menarik, para peserta AMOR juga diajak untuk melakukan aktivitas yang biasa dilakukan oleh para santri : melukis kaligrafi, menari tarian saman, dan juga bermain alat musik hadrah. Para suster dan peserta AMOR lainnya terlihat sangat gembira dan mampu berbaur dengan para peserta lainnya. Dalam sharing bersama setelah berkeliling, Suster Caroline Naibaho KYM dan juga Suster Cecilia Espenilla OP membagikan pengalaman mereka yang begitu menyenangkan. Bahkan Suster Cecilia mengatakan bahwa tulisan kaligrafi yang ia buat bersama para santri seperti sertifikat diploma.

Suster Mary T Barron OLA, presiden UISG juga menyampaikan testimoni dari kunjungan hari ini. Dalam testimoninya, Suster Mary mengatakan bahwa kunjungan ke pesantren ini menjadi pengalaman yang memenuhi mimpi-mimpi dari para peserta AMOR. Kunjungan ini membuat para peserta AMOR dapat mengalami pengalaman yang selama ini sangat jarang di dalam hidup : belajar memakai hijab, bermain alat musik, menari, dll. Perjumpaan semacam ini menunjukkan dialog dan encounter yang semakin kuat. Suster Mary Barron dan Suster Elisabeth memberikan sedikit kenang-kenangan bagi Pondok Pesantren Pandanaran. Ketika memberikan kenang-kenangan tersebut, para suster peserta AMOR menyanyikan lagu Rejoice sebagai ungkapan syukur dan kegembiraan yang bisa mereka berikan bagi pesantren Pandanaran.

Pada bagian akhir dari seluruh rangkaian acara, Romo Heri Setyawan SJ selaku fasilitator untuk kunjungan ini, mengajak para peserta untuk memulai perjumpaan-perjumpaan semacam ini di tempat masing-masing. Kunjungan ke pesantren ini merupakan kunjungan awal, kunjungan yang menjadi titik nol akan pengalaman-pengalaman indah selanjutnya.

Akhirnya, setelah mengalami pengalaman yang luar biasa, para peserta AMOR harus meninggalkan pesantren. Para peserta AMOR kemudian menyalami para santriwati yang sudah berbaris untuk memberikan salam kepada mereka. Para santriwati terlihat begitu gembira, bahkan meminta beberapa suster untuk memberikan tanda tangan mereka. Sebuah pemandangan indah yang menyiratkan sukacita dan perdamaian. Ketika semua peserta sudah sampai di bus, para santriwati melambaikan tangan melepas seluruh peserta yang telah dipenuhi dengan pengalaman-pengalaman yang akan sulit terlupakan. Kesempatan ini sungguh merupakan sebuah pengalaman perayaan keberagaman dalam semangat cinta persaudaran yang penuh makna.

Bagikan: