
OCD merupakan singkatan dari Ordinis Carmelitarum Discalceatorum. Dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai Ordo Karmel Tak Berkasut. Karmel OCD lahir di Spanyol pada abad ke-16 yang dipelopori oleh seorang biarawati terkenal, Santa Teresa dari Avila.
OCD Indonesia
Karmel OCD datang ke Indonesia pada tahun 1638 di Tanah Rencong – Serambi Mekah – Aceh Darussalam. Dua misionaris OCD dikirim tahun itu dari Provinsi Navara, Spanyol ke Goa – India dan Aceh. Mereka adalah Pastor Dionisius, OCD dan Bruder Redemptus, OCD. Dua misionaris tersebut menembuh perjalanan yang penuh risiko karena mereka berlayar dengan kapal ekspedisi dagang Portugis.
Di atas kapal, kedua misionaris OCD ini bertugas sebagai pendamping rohani bagi para penumpang dan awak kapal. Dua misionaris itu mengikuti kapal dagang Portugis, yang dalam konteks tertentu membawa semangat ekspansi Eropa dengan slogan “emas (gold), kemuliaan (glory), dan Injil (gospel).” Akibatnya, mereka tidak hanya menjalankan misi keagamaan, tetapi juga memikul tanggung jawab besar sebagai bagian dari representasi masyarakat Eropa saat itu.
Pada awalnya, kehadiran mereka di Aceh disambut baik oleh Sultan Aceh, yang saat itu berada di bawah kekuasaan Sultan Iskandar Thani. Namun, tidak lama kemudian, kecurigaan muncul. Mereka dituduh menyebarkan agama Kristen dan berusaha mengkristenkan wilayah Aceh. Kesultanan Aceh Darussalam, yang sangat menjunjung tinggi ajaran Islam, menolak keberadaan kedua misionaris tersebut. Ancaman pun semakin meningkat, tidak hanya bagi mereka, tetapi juga bagi seluruh peserta ekspedisi dagang Portugis.
Meskipun menghadapi tekanan dan ancaman untuk meninggalkan iman mereka, Pastor Dionisius dan Bruder Redemptus tetap teguh pada keyakinan mereka kepada Kristus. Mereka bahkan terus memberikan semangat dan keteguhan kepada seluruh awak armada. Karena keberanian serta keteguhan iman mereka, kedua misionaris dari Ordo Karmelit Tak Berkasut (OCD) itu akhirnya dibunuh.
Benih Iman Misionaris Awal
Pastor Dionisius a Nativity dan Bruder Redemptus a Cruce dibeatifikasi bersama pada 10 Juni 1900 oleh Paus Leo XIII. Ketulusan dalam berdoa, kerja keras, dan pengorbanan yang mereka tunjukkan menjadi inspirasi bagi para Karmelit di Indonesia di masa-masa berikutnya.
Sebelum mengabdikan diri sebagai pelayan Tuhan, keduanya berasal dari dunia militer. Namun, mereka memilih jalan iman, menjadi pribadi yang percaya kepada Tuhan dan saudara bagi sesama. Pilihan ini adalah jawaban atas panggilan Ilahi yang mengundang mereka untuk menjalankan kehendak-Nya.
Meski secara fisik mereka telah tiada, benih yang mereka tanam di Tanah Rencong tidak mati dan lenyap. Sebaliknya, jejak iman yang ditinggalkan oleh kedua martir dari Ordo Karmelit Tak Berkasut (OCD) tetap terpatri di bumi Aceh. Benih itu terus menunggu waktu untuk bertumbuh dan berkembang kembali.

Jika pohon iman sudah bertumbuh, maka ia akan terus bertumbuh dan bercabang hingga menghasilkan buah yang melimpah. “Sesungguhnya jika sebutir gandum tidak jatuh ke tanah dan mati, maka ia tetap satu biji saja; jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah. Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa tidak “mencintai nyawanya di dunia ini akan memeliharanya untuk hidup yang kekal” (Yohanes 2:24-25).
Bagi Tuhan, jarak waktu antara tahun 1638 dan 1982 bukanlah sebuah hambatan. Sebab, dalam pandangan-Nya, satu hari sama dengan seribu tahun. Maka, tidak mengherankan jika benih-benih kesyahidan itu tertanam di Tanah Rencong untuk waktu yang lama. Namun, perlahan tetapi pasti, benih iman dan panggilan itu mulai bertumbuh dan berkembang.
Benih yang Bertumbuh dan Berbuah
Pada tahun 1982, misi yang telah dirintis oleh dua Karmelit, yaitu Pastor Dionisius, OCD, dan Bruder Redemptus, OCD kembali dilanjutkan oleh dua misionaris dari OCD India. Provinsi Manjummel-India mengutus Pastor John Britto, OCD dan Pastor Thomas Kallor, OCD untuk meneruskan karya tersebut. Mereka memulai misi pertama mereka dengan mengelola Paroki St. Joseph di Kota Bajawa, Nusa Tenggara Timur.
Perkembangan semakin pesat. Pada 14 September 1989, biara pertama resmi didirikan sekaligus menjadi momen penerimaan angkatan pertama calon imam OCD pribumi. Dari tahun ke tahun, Ordo Karmelit Tak Berkasut di Indonesia terus mengalami pertumbuhan yang signifikan.
Pengaruh spiritualitas Karmelit dalam perkembangan umat Katolik di Indonesia tampak dalam berbagai bidang, baik pastoral maupun sosial. Dalam bidang pastoral, kontribusi mereka meliputi pengelolaan paroki di berbagai daerah, rumah retret, pusat kajian spiritualitas, layanan doa, bimbingan rohani (wisata rohani), serta pendampingan bagi anggota Karmel Sekuler (OCDS).


Sementara itu, dalam bidang sosial mereka turut berperan dalam pemberian beasiswa bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu, dan pemberdayaaan masyarakat melalui berbagai program ekonomi. Beberapa inisiatif yang pernah dilakukan antara lain penyediaan bibit ternak dan tanaman bagi warga sekitar biara, pelatihan keterampilan seperti pembuatan tahu-tempe, kerajinan bambu, menjahit, serta produksi bata di Bajawa, Flores (NTT). Melalui karya pastoral dan sosial ini, Ordo Karmelit Tak Berkasut terus menanamkan nilai-nilai iman dan pelayanan bagi masyarakat Indonesia.
Struktur Organisasi
Untuk menjalankan roda pemerintahan dalam dalam lembaga ordo, maka dpilihlah para pemimpin dan segenap fungsionaris untuk menunjang operasional lembaga dalam berbagai aspek. Adapun struktur organisatoris lembaga dalam periode 2023-2026 adalah sebagai berikut:
- KOMISARIS: RP. FELIX JOHN ELAVUNKAL OCD
- DEWAN FORMASI: RP. IRMINUS SABINUS LIKO OCD
- DEWAN PASTORAL: RP. ALOYSIUS JALANG OCD
- EKONOM: RP. KONSTANTINUS LADO OCD
- EKONOM ASET: FR. ARKADEUS JABUR OCD
- SEKRETARIS: RP. MAXIMUS GENGGENG OCD
- PROMOTOR PANGGILAN: RP. FRANSISKUS PALA OCD
- DELEGATUS OCDS: RP. BONAVENTURA AGUNG PRIBADI OCD
Alamat kantor komisaris: Jl. Lanudal, Desa Penfui Timur, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia, Telp. +62 813-8080-6461, email: commissariatocdindonesia@gmail.com
Anggota Komisariat OCD Indonesia
- Imam: 61 orang
- Indonesia (48)
- Jepang (4)
- Austria (2)
- Roma (6)
- Spanyol (1)
- Kaul Kekal/Agung (8)
- Frater TOP (5)
- Kaul Sementara (52)
- Novis (10)
- Postulan (11)
- Aspiran (14)
Karya-Karya Ordo
Berikut ini beberapa karya Komisariat OCD Indonesia:



- Formasi/Pembinaan
- Biara/ Komunitas Aspiran St. Edith Stein Maronggela, Riung Barat
- Biara/ Komunitas Postulan St. Maria dari Gunung Karmel Kiawa – Manado
- Biara/Komunitas Novisiat St. Joseph Bogenga – Bajawa
- Biara/Komunitas Filsafat San Juan Kupang
- Biara/Komunitas Teologi St. Theresia Lisieux Yogyakarta
- Pastoral Paroki
- Paroki St. Joseph Bajawa
- Paroki St. Joseph Lendiwacu-Sumba
- Paroki Hati Kudus Sonder-Manado
- Paroki Hati Kudus Yesus Banda Aceh
- Paroki Maria, Bunda Pertolongan Abadi Binjai-Medan
- Paroki St. Fransiskus Asisi – Bali
- Rumah Pusat Spiritualitas
- Rumah Retret dan Pusat Spiritualitas San Juan Kupang, Nusa Tenggara Timur
- Rumah Retret St. Joseph Bajawa, Nusa Tenggara Timur
- Penerbitan
Untuk membantu menyebarluaskan karya tulis anggota OCD Indonesia, para anggota OCD Indonesia menerbitkan kerya-karya mereka melalui Penerbit ‘Nyala Cinta’. Berikut ini beberapa karya yang telah diterbitkan: Buku Renungan DUPA empat bulanan, Majalah Carmelo, Kalender Katolik dan beberapa buku spiritualitas yang ditulis oleh para imam dan frater.